Kisah Maria dan Varia dari Rusia (1)

Extreme Devotion -- the Voice of the Martyrs

Extreme Devotion — the Voice of the Martyrs

Mengapa saya menulis tentang gereja-gereja teraniaya di penjuru bumi? Paling tidak apa yang mereka alami dan bagaimana mereka teguh berdiri untuk iman mereka mengingatkan saya bahwa sangatlah tidak layak kalau saya bermalas-malasan dengan kekristenan saya. Selain itu, tentu saja mendorong saya menjadi salah satu sahabat mereka yang selalu berdoa untuk mereka.

Kali ini saya menerjemahkan rangkaian tulisan dari Extreme Devotion, sebuah renungan harian yang berisi kisah para pejuang iman, Gereja yang mengalami aniaya di muka bumi ini. Anda bisa berlangganan renungan ini secara online lewat email dengan mendaftar di https://secure.persecution.com/extremedevotion/

Kali ini berkisah tentang persahabatan dua orang gadis, Maria dan Varia, yang dituangkan dalam bentuk surat.

Di bawah ini surat Maria kepada Ibu dan Ayahnya.

Kepada Ibu dan Ayah,

Salam dalam kasih Kristus. Aku baik-baik saja dan merasa begitu diberkati. Salah satu teman sekolahku, Varia, adalah adalah anggota dari Communist Youth Organization. Aku telah bersaksi kepadanya, dan kami semakin dekat setiap harinya. Kemarin dia berkata, “Aku tidak mengerti. Banyak murid di sini menghina dan menyakitimu, tetapi engkau tetap saja tidak membenci mereka.”

Aku berkata kepadanya bahwa Tuhan mengajar kita untuk mengasihi, bukan hanya kepada mereka yang bersikap baik kepada kita, tetapi terlebih lagi kepada mereka yang berlaku buruk kepada mereka – supaya mereka bisa melihat Tuhan melalui diri kita. Dulu Varia juga sering mengejek dan menghina aku, tetapi itu membuatku semakin tekun berdoa untuknya.

Hari ini, dia bertanya apakah aku bisa mengasihinya juga. Kami berpelukan dan menangis bersama. Aku percaya bahwa Varia akan segera menerima Kristus. Tolong berdoa untuknya.

Saat kita mendengar orang yang dengan keras menolak Tuhan, dan sepertinya mereka sungguh-sungguh dengan hal itu; hidup mereka menunjukkan bahwa mereka punya kehampaan di dalam hatinya. Kita bisa mendengar tangisan hati mereka; mereka mencari sesuatu dan berusaha menutupi kekosongan itu dengan bersikap membenci Tuhan.

Aku akan segera menulis surat kembali. Sampakan salamku untuk semuanya di rumah.

Maria.

Yang ini adalah surat kedua Maria kepada Ibu dan Ayahnya.

Kepada Ibu dan Ayah.

Di suratku yang terakhir, aku menuliskan tentang temanku yang ateis, Varia. Sekarang aku sangat bahagia menyampaikan kabar ini: Varia telah menerima Kristus! Kini dia begitu berbeda dan bersaksi secara terbuka kepada semua orang.

Pada mulanya, Varia merasa bersalah. Dia begitu bersedih karena selama ini sudah mempercayai dan mengatakan kepada semua orang bahwa tidak ada yang namanya Tuhan. Dia merasa bahwa dia harus membayar semua kesalahannya itu.

Kami pergi bersama ke pertemuan Communist Youth Organization. Sebenarnya aku sudah melarangnya, tetapi sepertinya dia tidak mau mendengarkan. Setelah menolak menyanyikan himne Komunis, Varia maju ke depan dan dengan berani menceritakan imannya kepada Kristus sebagai Juruselamat.

Dia memohon semua kawannya di sana untuk bertobat dari dosa dan datang kepada Kristus, seisi tempat itu begitu sunyi. Setelah selesai berbicara, Varia dengan suaranya yang indah menyanyikan sebuah lagu lama, “I am not ashamed to proclaim the Christ who died, to defend his commandments and the power of his cross.” Aku hanya bisa memandangnya tanpa bisa melakukan apapun saat mereka menyeretnya pergi. Hari ini tanggal 9 Mei, dan kami belum mendengar kabar apapun tentang dia.

Tolong berdoa!

Maria

Saya akan menuliskan kelanjutan kisah ini besok.

Referensi >> http://persecution.com/

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.