Kisah Maria dan Varia dari Rusia (2)

Extreme Devotion -- the Voice of the Martyrs

Extreme Devotion — the Voice of the Martyrs

Kelanjutan yang kemarin ya. Ini surat dari Maria kepada Ibu dan Ayahnya.

Untuk Ibu dan Ayah

Kemarin, tanggal 2 Agustus, aku akhirnya bisa berbicara dengan Varia di penjara. Dia kelihatan kurus dan pucat, tetapi matanya memancarkan kedamaian dan sukacita.

Rasanya begitu menyedihkan saat aku memikirkannya. Dia baru berusia sembilan belas tahun. Sebagai orang percaya, dia seperti masih bayi rohani. Tetapi dia sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya dan memilih jalan yang sulit ini.

Tolong berdoa untuknya. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi selain pakaian yang dikenakannya. Kami sudah mengumpulkan barang-barangnya dan mengirimkan ke penjara, tetapi kurasa dia tidak menerimanya.

Aku sempat bertanya kepada Varia apakah dia menyesal dengan keputusannya, dia menjawab, “Jelas tidak, dan jika aku dibebaskan, aku tetap akan melakukannya lagi. Jangan berpikir bahwa aku sedang menderita. Aku sangat gembira ternyata Tuhan begitu mengasihi aku dan memberikan sukacita untuk membela Nama-Nya.”

Aku bersyukur kepada Tuhan tentang pemahamannya itu. Jika kita di dalam Kristus, tidak ada penderitaan atau tekanan yang bisa menghentikan kita. Aku hanya bisa berdoa agar imanku bisa seperti iman Varia.

Kami yakin kalau Varia akan dikirim ke kamp kerja paksa di Sibereia. Aku percaya kalau Tuhan akan memberikannya kekuatan.

Maria

Berikut ini adalah surat yang ditulis oleh Varia.

Sahabatku Maria,

Akhirnya aku bisa menulis surat ini. Kami sudah sampai di kamp, kurang lebih sepuluh mil dari kota. Aku tidak dapat menggambarkan kondisi di sini, tetapi aku bersyukur kepada Tuhan untuk kesehatan dan kekuatan sehingga bisa bekerja di sini.

Aku ditugaskan bekerja di bagian mesis dengan seorang wanita dengan kesehatan yang buruk. Aku harus bekerja untuk kami berdua supaya tidak dihukum. Kami bekerja dua belas sampai tiga belas jam sehari, dan makanannya begitu buruk. Tetapi aku tidak mau mengeluh.

Aku bersyukur kepada Tuhan karena Dia memakaimu untuk memimpinku kepada Kristus. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku memiliki tujuan, dan aku tahu untuk siapa aku menderita. Aku punya hasrat dan gairah yang membara di sini untuk menceritakan kepada semua orang tentang keselamatan.

Waktu bekerja mereka sering mengejek dan memukuli aku karena aku tidak bisa diam. Bagaimana tidak? Selama aku bisa bicara akan tetap aku bersaksi kepada semuanya tentang kasih-Nya yang begitu besar.

Ada banyak orang percaya di sini. Kemarin malam kami berhasil menyusup ke sungai di mana aku dan tujuh orang lainnya dibaptis. Aku tidak akan pernah melupakan hari yang indah ini! Tolong jangan menangis dan berduka untukku. Tujuanku ada di sini sangat jelas, dan imanku tetap teguh.

Sahabatmu, Varia

Yang di bawah ini adalah surat terakhir Varia kepada Maria.

Sahabaku, Maria

Akhirnya ada kesempatan untuk aku menuliskan surat ini kepadamu. Ingat wanita yang sakit-sakitan yang aku ceritakan dulu? Kini kondisinya sudah membaik, dan kami baru saja dipindahkan ke kamp yang berbeda.

Di surat terakhirku, aku bercerita tentang baptisanku. Tetapi, aku belum sempat meminta maaf untuk semua kesalahan yang kuperbuat kepadamu sebelum aku menerima Kristus. Hanya oleh sikap pengampunanmu aku menjadi Kristen seperti sekarang. Terimalah permintaan maafku.

Terima kasih untuk kiriman paketnya. Terutama untuk Alkitabnya. Sejak Tuhan menyingkapkan mata dan hatiku akan kasih-Nya, aku menganggap diriku sebagai orang paling bahagia. Aku memandang penderitaan ini sebagai anugerah khusus. Adalah anugerah yang luar biasa untuk menderita demi Nama-Nya.

Berdoa supaya imanku tetap teguh sampai akhir. Kiranya Tuhan menjaga kalian dalam pertempuran ini. Jangan khawatir tentang kami yang ada di sini. Kami bersukacita karena besar upah kami di Surga.

Sahabatmu, Varia.

Setelah itu berita tentang Varia tidak lagi terdengar, tetapi imannya terus hidup memberikan semangat kepada Gereja di muka bumi.

Referensi >> http://persecution.com/

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.