Menggugat omong kosong gereja sebagai Bait Allah

Saya rasa sudah ada beberapa tulisan saya tentang Bait Allah di dalam blog ini, khususnya tentang bagaimana seharusnya kita memandang Bait Allah dalam konteks Perjanjian Baru. Tetapi, tetap saja saya menemukan banyak pengkhotbah yang menyatakan bahwa Bait Allah itu kalau sekarang ya sama dengan gereja. Ingin sekali saya menunjukkan beberapa tulisan saya kepada mereka, tetapi toh mereka punya dasar pendidikan teologis yang tinggi.

Tuhan dipenjara dalam gereja?

Tuhan dipenjara dalam gereja?

Di tulisan ini, sekali lagi, saya harus mengungkapkan lagi mengapa kita tidak boleh menyamakan gereja dengan Bait Allah. Mohon maaf, jika Anda bosan dengan topik ini. Masalahnya banyak orang Kristen di banyak gereja masih terjebak dengan pemikiran ini.

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.[1]

Di dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya sudah mengungkapkan beberapa hal. Bagaimana seharusnya kita tidak menyamakan gereja dengan Bait Allah ada dalam “Gereja <> Bait Suci” dan “Membangun Bait Allah yang sejati”. Tentang bahayanya pemahaman yang keliru mengenai Bait Allah dan gereja bisa Anda baca di tulisan “Bahaya sistem puritas di gereja” dan “Menggugat istilah dalem pamujèn”.

Dalam bacaan Alkitab di atas, kita menemukan bagaimana Tuhan Yesus menyatakan bahwa Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Tentu saja hal ini senafas dengan pernyataan Paulus dalam 1 Korintus 3:16-7 dan 2 Korintus 6:16-18. Maka menjadi jelas mengapa kita tidak bisa dan tidak boleh menyamakan gereja sebagai Bait Allah – khususnya dalam konteks Perjanjian Baru.

Jika Bait Allah adalah tubuh Kristus sendiri, maka Bait Allah pastilah hidup, sementara gedung gereja hanyalah benda mati. Tidaklah mungkin ada gedung gereja yang selalu menyertai orang Kristen setiap waktu, sementara Kristus adalah Immanuel. Paling-paling yang menyertai jemaat hanyalah kartu anggota gereja. Kalau Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya untuk dunia, Anda yakin gereja Anda mau mengorbankan dirinya untuk Anda? Yang sering terjadi adalah gereja menuntut pengorbanan dari jemaatnya.

Mengatakan bahwa gereja sama dengan Bait Allah sama artinya memenjarakan Kristus di dalam gedung yang tak bernyawa. Maka, saya mengingatkan – lagi dan lagi – untuk tidak terjebak dalam pemahaman yang kurang tepat ini.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yohanes 2:13-21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.