Hakimilah aku

      No Comments on Hakimilah aku

Glasses on Open Bible ca. 2001Harus saya akui, kitab-kitab puisi adalah tulisan-tulisan yang biasanya sering saya hindari untuk dikhotbahkan. Bagi saya bagian-bagian Alkitab yang ini terlalu sulit, ada begitu banyak emosi dan jiwa yang dicurahkan oleh penulis-penulisnya. Termasuk salah satu Mazmur Daud di bawah ini.

Mazmur 7:1-17 Nyanyian ratapan Daud, yang dinyanyikan untuk TUHAN karena Kush, orang Benyamin itu. (7-2) Ya TUHAN, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku dan lepaskanlah aku, (2) (7-3) supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan. (3) (7-4) Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, (4) (7-5) jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, (5) (7-6) maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu. Sela (6) (7-7) Bangkitlah, TUHAN, dalam murka-Mu, berdirilah menghadapi geram orang-orang yang melawan aku, bangunlah untukku, ya Engkau yang telah memerintahkan penghakiman! (7) (7-8) Biarlah bangsa-bangsa berkumpul mengelilingi Engkau, dan bertakhtalah di atas mereka di tempat yang tinggi. (8) (7-9) TUHAN mengadili bangsa-bangsa. Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas. (9) (7-10) Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil. (10) (7-11) Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; (11) (7-12) Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat. (12) (7-13) Sungguh, kembali ia mengasah pedangnya, melentur busurnya dan membidik. (13) (7-14) Terhadap dirinya ia mempersiapkan senjata-senjata yang mematikan, dan membuat anak panahnya menjadi menyala. (14) (7-15) Sesungguhnya, orang itu hamil dengan kejahatan, ia mengandung kelaliman dan melahirkan dusta. (15) (7-16) Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya. (16) (7-17) Kelaliman yang dilakukannya kembali menimpa kepalanya, dan kekerasannya turun menimpa batu kepalanya. (17) (7-18) Aku hendak bersyukur kepada TUHAN karena keadilan-Nya, dan bermazmur bagi nama TUHAN, Yang Mahatinggi.

Mazmur Daud yang satu ini menjadi lebih sukar karena kita hampir tidak tahu dengan jelas apa latar belakangnya. Siapa Kush orang Benyamin itu tidak dijelaskan oleh Alkitab. Bisa jadi Simei bin Gera[1], Doeg orang Edom[2], bisa jadi Saul sendiri, atau mungkin orang lain. Yang cukup jelas, Daud berada dalam kondisi terjepit, paling tidak tertekan secara mental. Teriakannya untuk perlindungan bisa dengan jelas kita baca.

Ya TUHAN, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku dan lepaskanlah aku, supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan. …. Bangkitlah, TUHAN, dalam murka-Mu, berdirilah menghadapi geram orang-orang yang melawan aku, bangunlah untukku, ya Engkau yang telah memerintahkan penghakiman!

Tetapi Daud sampai kepada sebuah pemahaman bahwa TUHAN tidak sembarangan melindungi orang. TUHAN Allah adalah Hakim yang Mahaadil. Dia hanya akan melindungi orang-orang yang memang layak mendapat perlindungan-Nya. Maka, Daud juga menyanyikan hal ini:

Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu. …. Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas.

Dalam kondisi yang sedang terjadi waktu itu, Daud tidak tahu apakah itu karena kesalahannya atau karena musuh-musuhnya. Di sini dibutuhkan kedewasaan untuk dengan jujur membuka segenap hidup supaya Allah sendiri yang menguji dengan standar-Nya. Kalau memang TUHAN memandang kita layak dibela dan dilindungi, ataupun TUHAN oleh rencana-Nya memilih untuk “tidak” memberikan perlindungan-Nya, itu adalah hak-Nya.

Kita tidak boleh dan tidak bisa sembarangan meng-klaim perlindungan dan pembelaan-Nya sementara hidup seenak sendiri. Harus sampai pada sebuah kesadaran dan pernyataan, “Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]2 Samuel 16:5
  2. [2]1 Samuel 21-22

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.