Tambahkanlah iman kami! …. Untuk apa?

Glasses on Open Bible ca. 2001Di tata ibadah gereja kami ada yang namanya lektor. Itu semacam pembacaan ayat-ayat Alkitab sebelum khotbah. Ada tiga pembacaan lektor, dengan khotbah berarti ada empat pembacaan Alkitab. Satu dari Perjanjian Lama, satu dari Mazmur, satu dari Perjanjian Baru non-Injil, dan satu dari Injil. Harapannya sederhana, semalas-malasnya jemaat, mereka seminggu sekali membaca empat bagian Alkitab 🙂

Nah, beberapa kali saya perhatikan pilihan pasal dan perikop pembacaan tidak pas dengan konteksnya. Mungkin juga ada pertimbangan agar tidak terlalu panjang pembacaannya. Sudah sering saya uraikan, pembacaan satu perikop tanpa memperhatikan konteks bacaan sebelum dan sesudahnya seringkali mereduksi dan memotong hubungan/koneksi antarmakna.

Beberapa minggu yang lalu, salah satu bacaannya diambil dari Lukas 17:5-10. Tapi supaya lengkap, kita baca mulai ayat 1.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”[1]

Kalau kita baca mulai ayat 5, akan tiba-tiba kita tertumbuk pada pernyataan para murid, “Tambahkanlah iman kami!”. Kita akan menebak-nebak mengapa para murid tiba-tiba membuat pernyataan itu. Padahal alasannya bisa dengan jelas kita temukan di ayat-ayat sebelumnya.

Murid-murid membuat permintaan itu, karena mereka melihat tantangan besar pada apa yang dinyatakan Tuhan Yesus mulai ayat pertama. Apa saja itu?

Tantangan pertama adalah tentang penyesatan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa penyesatan pasti akan terjadi, tidak mungkin untuk dihindari. Para murid memandang ini sebagai sebuah tantangan yang berat.

Tantangan yang kedua adalah hal pengampunan. Bukan sekedar pengampunan, melainkan pengampunan tanpa batas. Kalau dihubungkan dengan ayat sebelumnya tentang mereka yang melakukan penyesatan, jikalau mereka bertobat, pengampunan juga harus diberikan. Ini jelas bukan perkara yang mudah, bagaimana mengampuni mereka yang menyesatkan. Tentang penyesatan ini, kapan waktu akan saya tuliskan.

Bagi para murid, dua tantangan ini sangat berat dan karena itu membutuhkan iman dalam ukuran yang besar. Menghadapi penyesatan tentu adalah perkara yang tidak mudah, apalagi memberikan pengampunan kepada mereka yang melakukan penyesatan itu. Lalu apa jawaban Tuhan Yesus?

Kata “tambahkanlah” berasal dari kata prostithemi yang digunakan dalam makna kuantitatif. Sementara jawaban Tuhan Yesus menjadi semacam paradoks dari permintaan para murid itu. Dengan menggunakan gambaran biji sesawi, seakan-akan Tuhan Yesus menyatakan bahwa jawabannya bukan ada pada besar kecilnya ukuran iman untuk menghadapi dua tantangan di atas.

Lalu apa jawabannya? Bagaimana kita sekarang ini bisa menghadapi penyesatan dan juga melakukan pengampunan? Jawabannya bisa kita baca di ayat 7-10. Tidak dibutuhkan ukuran iman yang besar untuk menghadapi dan mengampuni para penyesat, melainkan dibutuhkan hati seorang hamba, hati dan hidup yang berkata, “kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”.

Pengampunan bukan tentang besar kecilnya iman kita, tetapi apakah kita mau melakukannya atau tidak.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Luk 17:1-10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.