Kerajaan Allah (5): mendahului masuk

Tuhan Yesus mengajarkan banyak sekali perumpamaan selama Dia melayani di muka bumi ini. Tidak terhitung lagi berapa banyak pengkhotbah yang mengkhotbahkannya. Mungkin juga kita sudah lupa berapa kali kita mendengar perumpamaan-perumpamaan itu. Pertanyaannya adalah apakah perumpamaan itu sekedar menjadi sebuah cerita yang mampir dalam hidup kita ataukah mengubah hidup kita dalam jalan kebenaran.

Mari kita baca Matius 21:28-32

(28) “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. (29) Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. (30) Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. (31) Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. (32) Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”[1]

Dalam perumpamaan ini, Tuhan Yesus menegur imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Yang patut diingat adalah bagi kelompok ini, hanya merekalah yang layak masuk ke dalam Kerajaan Allah, yang lainnya tidak. Tentu hal yang menusuk bagi mereka saat Tuhan Yesus mengatakan bahwa pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal – yang dipandang sebagai orang berdosa – malahan mendahului mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Berapa banyak orang Kristen yang merasa bahwa dirinyalah yang lebih layak masuk Kerajaan Allah dibandingkan orang lain, mirip dengan imam-imam kepada dan tua-tua ini. Atas dasar apa mereka berhak membuat klaim seperti itu?

Dari perikop yang kita baca di atas, kita bisa menemukan siapa yang layak dan siapa yang tidak layak berada di Kerajaan-Nya.

Kerajaan Allah itu hanya terbuka bagi orang yang melakukan kehendak Bapa[2]. Bukan kepada orang yang mengatakan “ya” kepada firman, tetapi tidak melakukannya. Kerajaan Allah bukanlah untuk orang yang sekedar mengatakan “Amin” saat pemberitaan firman, tetapi kemudian melupakannya. Apa artinya kita berteriak “amin, amin” saat mendengarkan khotbah, tetapi tidak menaati kehendak-Nya?

Kerajaan Allah itu tersedia bagi orang-orang yang mempercayai dan mengikuti jalan kebenaran.[3] Kita musti peka dengan sadar menyelidiki setiap khotbah yang diperdengarkan kepada kita. Apakah itu jalan kebenaran yang sempit dan sesak yang ujungnya adalah kehidupan, ataukah jalan kemakmuran, kesenangan, kelimpahan yang lebar dan luas, tapi ujungnya adalah maut?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Matius 21:28-32
  2. [2]ay. 31
  3. [3]ay. 31-32

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.