Kelimpahan: perumpamaan anak yang hilang

Kata “kelimpahan” ini menjadi kata yang begitu menarik saat dikhotbahkan, atau dalam seminar-seminar. Tidaklah heran kalau hal ini yang diincar dan dikejar oleh kebanyakan orang Kristen. Hanya saja, apakah kelimpahan yang ada di pikiran kebanyakan kita ini adalah juga kelimpahan yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, sebagaimana yang diucapkan-Nya, “… Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”[1]

Untuk hal ini, saya mengambil sebuah perikop yang terkenal, perumpamaan tentang anak yang hilang.

Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”[2]

Kelimpahan menurut anak bungsu

Bagi anak bungsu kelimpahan adalah harta kekayaan. Karena itulah dia menuntut bagiannya dan dengan segera meninggakan bapanya. Apakah ini kelimpahan yang sejati? Pada satu titik, harta kekayaan itu habis total, yang tersisa hanyalah kemelaratan.

Sebuah momen pencerahan muncul ketika anak bungsu ini sudah kehilangan segala sesuatu, termasuk tidak mempunyai apapun untuk dimakan. Akhirnya dia menyadari bahwa kelimpahan yang sejati itu ada saat dia bersama dengan bapanya.

Kelimpahan menurut anak sulung

Berbeda dengan anak bungsu, si sulung tetap berada di dekat bapanya, bekerja untuk bapanya, melayani bapanya bertahun-tahun, dan tidak pernah sekalipun tidak taat. Tetapi juga kita tahu bahwa si sulung tidak mengalami kelimpahan. Mengapa demikian?

Bagi anak sulung kelimpahan berarti “berkat balasan” untuk apa yang telah dia kerjakan bagi bapanya. Sepanjang waktu selama adiknya pergi, anak sulung ini bersama-sama dengan bapanya, tetapi tidak sekalipun dia menyadari kelimpahan yang sebenarnya ada di depan matanya.

Kesimpulan

Kelimpahan bukanlah harta kekayaan duniawi yang banyak dan seringkali kita kejar itu. Kelimpahan sejati adalah saat kita ada dekat bersama-sama dengan Bapa.

Bukankah di perumpamaan itu, bapa juga memberikan harta benda kepada anak bungsu yang pulang? Benar, tetapi itu adalah harta yang ada di rumah bapa. Harta yang teramat mulia yang bukan dikumpulkan di bumi, melainkan yang di rumah Bapa.[3]

Berbeda dengan perumpamaan domba yang hilang, di mana sang gembala mencari domba itu, bapa di perumpamaan ini tidak pernah mencari si anak bungsu. Kesesatan kita memaknai kelimpahan hanya bisa disadarkan oleh diri kita sendiri. Saya berharap kita tidak perlu mengalami seperti yang dialami anak bungsu, untuk bisa memaknai dan mengalami kelimpahan yang sejati itu.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yohanes 10:10
  2. [2]Lukas 15:11-32
  3. [3]Matius 6:19-20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.