Kerajaan Allah (1)

      No Comments on Kerajaan Allah (1)

Selama masa pelayanan-Nya di muka bumi, Tuhan Yesus berulangkali menyebutkan tentang Kerajaan Allah. Saya terdorong untuk menyelidiki dan menuliskan tentang hal ini, sebagaimana Alkitab mengatakannya. Supaya kita, orang percaya, tidak sekedar mengaminkan waktu ada pengkhotbah menyatakan “kejarlah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya“. Apa yang dimaksud mengejar Kerajaan Allah? Atau waktu pendoa yang mengatakan, “kiranya berguna untuk memperluas Kerajaan Allah”, apakah kita memang bisa memperluas Kerajaan Allah?

Langsung saja, yang pertama kita akan melihat dalam Markus 4:26-29:

(26) Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, (27) lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. (28) Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. (29) Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Ada beberapa hal yang sudah kita cukup pahami bersama-sama. Benih yang ditaburkan adalah Firman Tuhan itu sendiri. Siapakah orang yang menabur itu? Tuhan Yesus sendiri? Saya rasa di sini orang yang menabur itu bukan Tuhan Yesus, karena di ayat 27 ada pernyataan “… pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun …“. Ini jelas bukan Tuhan Yesus. Orang yang menabur ini adalah mereka yang dipercaya membagikan kebenaran Firman Tuhan.

Dicatat di ayat 27 bagaimana penabur itu tidak mengetahui bagaimana benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi. Dari sisi kita — para pendengar firman — ini menunjukkan sebuah kebenaran. Bahwa bagaimana benih firman itu bisa bertumbuh, tidak bergantung kepada penaburnya. Bagaimana firman itu bertumbuh di hidup kita tidak bergantung kepada pendeta, pengkhotbah, atau hamba Tuhan lainnya. Itu adalah urusan kita sendiri.

Ini selaras dengan pernyataan Paulus, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.[1] Meskipun dalam dunia pertanian tidak ada seorang petani yang hanya menabur kemudian membiarkannya begitu saja. Ayat 27 berfokus kepada bagaimana pertumbuhan terjadi, bukan atas usaha penabur itu.

Ayat 28, siapa yang berbuah? Benih itu? Bukan, yang berbuah adalah bumi (tanah). “Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu“. Apa itu tanah? Apa itu bumi? Yup, itu adalah hati kita, tempat benih itu ditaburkan. Bukan firman-Nya yang berbuah, tetapi hati kitalah yang seharusnya berbuah.

Nah, lihat apa yang terjadi kemudian, saat “buah itu sudah cukup matang“, dituailah buah itu. Siapa yang menuai, para malaikat? Bukan, di sini yang menuai adalah para penabur firman. Saat saya berkhotbah dan menaburkan benih firman, perikop ini yang terjadi, kemudian saya  “tidur” seperti yang ayat 27 katakan — karena saya bukan gembala yang memelihara dan menggembalakan sebuah gereja/jemaat. Selalu ada harapan bahwa mereka yang mendengar firman ini akan bertumbuh dan berbuah matang, sempurna seperti Yesus. Maka saya bisa memahami bagaimana frustasinya para pengkhotbah yang benar-benar menyampaikan kebenaran firman, tetapi kemudian mendapati bahwa yang dikhotbahi tidak menjadi matang, malahan semakin terpikat dengan dunia dan mengejar hawa nafsu kedagingan belaka.

Ada sukacita yang besar pada diri seorang penabur firman, saat dilihat dan ditemukannya tanah itu menghasilkan buah yang matang. Sampai di sini saya akan menyampaikan sedikit koreksi kepada beberapa prinsip yang menurut saya tidak pas disampaikan di gereja-gereja modern, yaitu berkaitan dengan penuaian. Jika Anda tidak siap, berhenti di sini, jangan dibaca tulisan saya di bawah ini.

Kapan seorang petani menuai hasil tanahnya? Saat sudah kelihatan banyak buahnya atau saat sudah matang buahnya? Dengarkan saya, kalau yang dimaksud dengan gerakan penuaian di gereja-gereja, apa yang sering diumbar di mimbar sebagai masa penuaian, adalah banyaknya dan bertambahnya hitungan kepala yang masuk ke gereja, berhati-hatilah. Gereja akan masuk ke dalam ilusi yang berbahaya. Saya pernah salah di sini, karena itu saya berani menuliskan hal ini.

Sekali lagi, bukankah petani menuai saat sudah masak buah yang dinantikannya? Penuaian tidak pernah berbicara tentang jumlah, sekali lagi penuaian tidak pernah berkata tentang kuantitas, tetapi tentang kualitas, tentang kematangan, tentang kedewasaan, tentang kesempurnaan. Jangan salah mengartikan “ladang yang menguning” sebagai pelipatgandaan jiwa-jiwa.

Bahkan, dalam tulisan-tulisan saya berikutnya tentang Kerajaan Allah ini, saya akan menunjukkan bahwa Gereja tidak berhenti hanya di masa penuaian, Gereja juga akan sampai kepada masa penampian. Sekarang, mari kita koreksi hidup kita dengan tinta merah, jika Kerajaan Allah seperti yang ditunjukkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan ini, apakah kita sudah layak disebut sebagai anggota Kerajaan Allah?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]1 Korintus 3:6-7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.