Bahaya sistem puritas di gereja

Sistem puritas adalah sistem pemberian batas-batas, pemahaman-pemahaman, definisi-definisi, dan penggolongan peringkat sosial demi tatanan atau orde sosial terjaga. Secara sederhana sistem puritas bertujuan supaya “segala sesuatu berada pada tempatnya yang sepatutnya dan ada tempat yang sepatutnya untuk segala sesuatu”.

Mengapa saya memandang sistem puritas ini berbahaya bagi gereja masa kini adalah karena ada banyak salah penafsiran dan ketidaktepatan penerapan sistem ini di dalam gereja. Salah satu kesalahan utama gereja masa kini adalah apa yang saya sebut sebagai “Israel sentris”. Apa yang dialami Israel harus gereja alami, apa yang dikerjakan Israel harus dikerjakan gereja, tata nilai dan norma Israel haruslah juga menjadi tata nilai dan norma gereja. Bagi saya, hal ini jelas tidak tepat. Kalau hal ini terus dipertahankan, tujuan akhir dari gereja adalah tanah suci Yerusalem – di mana banyak kita berlomba-lomba ke sana – dan bukannya Langit Baru dan Bumi Baru yang disediakan Kristus.

Akibatnya, sistem puritas yang menyusun Israel juga diterapkan di dalam gereja. Sekali lagi, ini berbahaya. Ingat bahwa sistem puritas Israel, cara, bentuk penataan, dan penstrukturan masyarakat dibuat dan diselenggarakan dengan berpusatkan pada pengakuan bahwa Allah itu kudus. Hal ini kemudian menciptakan “hierarki kekudusan” di hampir semua segi kehidupan bangsa Israel.

Ambil contoh terciptanya hierarki kekudusan tempat-tempat dalam bangsa Israel, di mana berpusat di Bait Allah dan semakin jauh dari Bait Allah, maka semakin berkurang kekudusan tempat itu, hingga tempat terjauh dari Bait Allah adalah tanah cemar dan menjijikkan.

  1. Ruang Maha Kudus
  2. Ruang Kudus
  3. Ruang antara Altar
  4. Serambi Imam
  5. Serambi orang Israel
  6. Serambi perempuan
  7. Benteng/Tembok Bait
  8. Bukit Sion
  9. Kawasan di dalam tembok kota Yerusalem
  10. Kota-kota berkubu
  11. Tanah Israel
  12. dst.

Hal ini kemudian memunculkan sistem puritas baru dalam hal tatanan sosial pekerjaan. Pekerjaan yang semakin dekat ke Bait Allah adalah pekerjaan yang paling kudus. Semakin jauh pekerjaan Anda dari Bait Allah, berkurang juga nilai kekudusannya. Ini berlaku bagi penilaian kualitas seorang pribadi.

  1. Para imam
  2. Orang Lewi
  3. Orang Israel asli
  4. Orang non Israel yang menyembah TUHAN (=YHWH)
  5. Budak-budak yang sudah dibebaskan
  6. Imam-imam yang dicopot dari jabatan
  7. Budak-budak dalam Bait Allah
  8. Anak-anak haram
  9. dst.

Nah, tanpa sadar gereja dan kebanyakan orang Kristen terjebak dalam sistem puritas yang sama. Mereka yang melayani lebih dekat ke mimbar dianggap lebih berkualitas, punya nilai plus dibandingkan yang lain. Sementara mereka yang tidak ikut melayani pelayanan mimbar, dianggap berada di tataran yang berbeda. Para pelayan dianggap memiliki hidup yang lebih kudus dan lebih menghormati Tuhan daripada mereka yang tidak melayani. Hingga kemudian munculah golongan pelayan dan golongan kaum awam, atau golongan aktivis dan golongan pasivis.

Seorang sahabat yang masih mahasiswa dan kebetulan kerja sampingan memberikan bimbingan belajar, untuk membantu orang tuanya membayar biaya kuliahnya, sempat mengeluh karena dianggap tidak mementingkan pelayanan dan lebih mementingkan pekerjaannya. Dia merasa tidak sejahtera karena sering disindir dianggap meninggalkan pelayanan dan menomorduakan Tuhan.

Berhentilah membuat kotak-kotak puritas! Tidak tahukah kita bahwa melayani itu tidak mesti di gereja? Begitu dangkalkah pemikiran kita dengan berpikir bahwa nilai plus hidup kita ada di saat kita melayani di gereja? Bukankah TUHAN mau kita semua hidup kudus, tidak peduli pelayan atau bukan, dengan standar kekudusan yang sama?

Jangan-jangan sudah mulai ada pandangan bahwa mimbar gereja itu lebih kudus daripada kursi jemaat. Maka hancurlah kekristenan, karena kita akan takut berbuat dosa di gereja, tetapi berkubang dalam lumpur dosa di tempat lain.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

4 thoughts on “Bahaya sistem puritas di gereja

  1. julie gwee

    Kej. 1:27.-28 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Tugas menaklukkan bumi juga tugas dariNya. Terima kasih untuk tulisan Anda.

    Reply
  2. Pingback: Menggugat istilah “dalem pamujèn” | Martianus' Blog

  3. Pingback: Menggugat omong kosong gereja sebagai Bait Allah | Martianus' Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.