Menggugat istilah “dalem pamujèn”

Beberapa malam lalu, saya mendapat sms dari seorang pemudi yang dulu pernah saya layani, sebuah pertanyaan:

Mas, kalau kita tidak ke gereja itu berdosa ya?

Tentu saja jawabannya tidak sederhana. Jika kita memaksa menjawab ya atau tidak untuk pertanyaan itu, sama saja kita masuk ke dalam pola pikir legalitas, ketika kekristenan didasarkan kepada hukum-hukum agama.

Pada akhirnya kita menjadikan gereja sebagai pusat kekristenan. Mungkin sampai kepada memberhalakan gereja. Pagi ini, ketika di gereja kembali istilah “dalem pamujèn” (bahasa Jawa) muncul dalam doa majelis. Istilah ini dipakai untuk menunjuk kepada gereja. “Dalem pamujèn” kalau dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan “rumah pujian”.

Seberapa seringnya orang Kristen menunjuk gereja sebagai rumah pujian, rumah doa, rumah mujizat, dan sebutan rumah-rumah lainnya. Sayangnya penyebutan gereja dalam nama-nama seperti itu sesungguhnya membawa jiwa puritas. Tentang bahayanya sistem puritas di dalam gereja sudah saya tuliskan di sini.

Ketika kita menyebut gereja sebagai rumah pujian, tanpa sadar kita menanamkan dalam benak jemaat bahwa pujian yang diterima oleh Tuhan hanya saat dilantunkan di gereja. Gereja sebagai rumah doa sepertinya mengatakan bahwa hanya doa di gerejalah yang akan dijawab oleh Tuhan. Pada akhirnya kita menjadikan gereja sebagai pusat kekristenan. Mungkin sampai kepada memberhalakan gereja.

Ah, tuduhan ini sudah keterlaluan! Berapa banyak hamba Tuhan – paling tidak di Indonesia – yang minder saat gerejanya masih ngontrak, dan begitu bangganya saat bisa membeli dan membangun gereja sendiri? Bagaimana kemajuan sebuah gereja diukur sekarang ini, bukankah dari kemegahan gedung gerejanya?

Maka tidak salah kalau kekristenan sekarang menciptakan orang Kristen yang cakap memuji dan menyembah di dalam gereja, tetapi hidupnya tidak bermazmur. Kita melihat hamba-hamba Tuhan yang mahir berkhotbah tetapi juga mahir memperebutkan aset-aset gereja dan jabatan-jabatan gerejawi. Tercipta hamba-hamba Tuhan selebritas yang terkenal dengan mujizat-mujizat, tetapi juga mematok tarif setinggi langit. Saya melihat sendiri seorang pendeta yang bertengkar di pinggir jalan karena mobilnya terserempet motor orang, kemudian masuk ke gereja dan masih bisa berkhotbah dengan berapi-api. Cukup dan muak dengan kepalsuan semacam ini. Saya sedang menuduh? Tidak! Saya sedang menggugat.

Mengapa kita tidak menyebut gereja cukup sebagai (gedung) gereja saja? Bukankah kekristenan kita adalah kehidupan kita? Bukankah yang disebut bait Roh itu adalah tubuh kita dan bukannya gereja? Bukahkah kehidupan ini hanyalah kemah-kemah yang akan segera dibongkar?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Menggugat istilah “dalem pamujèn”

  1. Pingback: Menggugat omong kosong gereja sebagai Bait Allah | Martianus' Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.