Kristen = kaya (?)

      2 Comments on Kristen = kaya (?)

Mengapa saya tuliskan hal ini adalah semakin banyak orang Kristen yang terjebak ke dalam pengajaran yang menjelaskan bahwa seakan-akan orang Kristen yang benar adalah orang Kristen yang diberkati dengan kekayaan materi.

Kalau ada orang Kristen yang bersaksi bahwa dia mendapat berkat, apa artinya? Ujung-ujungnya adalah uang dan kekayaan, serta kebanggaan diri. Berapa banyak yang senang menuliskan ayat-ayat berkat dan kekayaan di statusnya? Berapa banyak yang menggunakan ayat — sepenggal-sepenggal — hanya untuk melegitimasi hasratnya akan pengejaran kekayaan.

Tidak perlu menuding orang lain, saya pun dulu sering mengkhotbahkan hal-hal semacam ini. Tidaklah salah berusaha menjadi kaya, tetapi kekayaan itu adalah untuk kemuliaan Tuhan Yesus. Silakan berhasrat untuk menjadi kaya, tapi jangan membelok-belokkan ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan diri sendiri.

Inilah ayat-ayat yang seringkali dibelokkan untuk menyatakan bahwa orang Kristen boleh memiliki hasrat atas kekayaan.

“dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya” (Ulangan 8:12)

Dan apa yang sering dikatakan, o… perhatikan di sana, “rumah-rumah” artinya Tuhan menghendaki kita tidak hanya punya satu rumah, tetapi rumah-rumah … banyak rumah. Akhirnya orang Kristen berlomba-lomba, karena orang Kristen yang diberkati itu harus punya rumah-rumah. Jemaat yang hanya bisa ngontrak rumah, akhirnya hanya bisa menjadi minde.r

“TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman.” (Ulangan 28:12)

Ayat ini mendorong setiap orang Kristen untuk berlari menuju puncak piramida ekonomi, supaya bisa memberi pinjaman.

“Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Markus 4:20)

Seberapa sering kita mendengar kalimat ini dalam doa-doa persembahan. Akibatnya semua berusaha mempersembahkan semakin banyak dan semakin banyak, karena akan dikembalikan 30, 60, 100 kali lipat. Padahal ayat itu tidak pernah berbicara tentang persembahan.

“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38)

Waduh apalagi ayat ini … padahal di sini sedang bicara tentang penghakiman lho, kok larinya bisa ke persembahan dan uang ya.

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10)

Jujur saja, berapa banyak di antara kita yang menjadikan ini ayat pegangan. Apa yang diincar? Ya jelas kelimpahannya to. Ayolah sedikit belajar keras memahami Alkitab, kita akan kaget apa yang sebenarnya Alkitab maksudkan dengan kelimpahan di ayat itu.

Ayat-ayat ini tidak pernah salah, kita saja yang sering menafsirkan, mengajarkan, dan membelokkannya untuk memuaskan nafsu kita atas kekayaan duniawi itu. Mengapa bisa demikian? Saya menemukan paling tidak ada dua alasan.

Pertama, kita salah menempatkan orang Kristen sebagai bangsa Israel rohani. Seringkali kita memandang kekristenan sama dengan bangsa Israel, menerima berkat yang sama, mendapatkan anugerah dan mujizat yang sama. Itulah mengapa banyak orang Kristen berlomba-lomba pergi ke Tanah Perjanjian, karena kita berpikir di sana juga tanah perjanjian kita.

Dr. De Haan, pendiri Radio Bible Course (RBC) Ministry — sebuah pelayanan pengajaran firman multinasional — tidak pernah mau pergi ke Israel. Beliau mengatakan bahwa satu-satunya hal yang sering dibawa pulang orang Kristen dari Israel hanyalah foto-foto, mereka tidak semakin taat, mereka tidak semakin cinta Tuhan, mereka tidak semakin mengejar kebenaran Alkitab.

Tunggu dulu, jangan bilang saya iri — silakan kalau Anda mau ke sana. Yang patut kita ketahui, Israel mengejar berkat jasmani — tanah yang berlimpah susu dan madu –, kita merindukan berkat-berkat rohani. Israel merindukan Tanah Perjanjian, kita menantikan langit baru dan bumi baru. Cara pandang orang Kristen tentang berkat, harusnya berbeda dengan cara pandang bangsa Israel.

Kedua, kita sering terpikat dan puas dengan ayat-ayat dan pengajaran yang manis di telinga, dan menjadi malas mempelajari kebenaran dari ayat-ayat itu. Para pengkhotbah dan pengajar Firman — termasuk saya — dengan seenak hatinya mengambil satu ayat dan memenggalnya keluar dari kebenaran sejatinya, dan mengajarkannya kepada orang Kristen lainnya. Pada akhirnya, pengajaran-pengajaran yang salah semacam ini menjadi kanker yang makin menyebar di tubuh Kristus.

Apakah orang Kristen tidak boleh kaya? Kita harus terus bekerja dan berusaha keras, supaya dengan hasilnya kita semakin efektif melayani Tuhan. Mari jujur pada diri kita masing-masing, kalau Tuhan menganugerahkan kekayaan kepada kita, apakah kita makin meninggikan Tuhan atau malahan meninggikan diri sendiri?

It’s obvious, isn’t it? The place where your treasure is, is the place you will most want to be, and end up being (Matthew 6:21 – The Message)

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

2 thoughts on “Kristen = kaya (?)

  1. steven

    bagaimana pandangan anda mengenai gereja2 kharismatik yg banyak berbicara mengenai teologi kemakmuran seperti benny hinn, joel osteen, kenneth Hagin, dll. yang pengikutnya buanyak sekali. mereka jg bergaya hidup bisa dikatakan mewah.
    bagaimana pendapat dan pandangan anda mengenai hal ini.
    GBU

    Reply
    1. martianuswb Post author

      Jika bapak bertanya kepada tokoh-tokoh tersebut tentang gaya hidup dan pengajaran mereka, mereka akan punya jawaban yang “alkitabiah”. Kalau yang ditanyakan adalah mengapa pengikutnya bisa banyak, pengajaran yang menyenangkan telinga itu selalu lebih mudah menarik orang.
      Mengenai pribadi tokoh-tokoh ini, saya tidak bisa berkomentar banyak. Jangan sampai berujung kepada menghakimi. Kebanyakan hamba-hamba Tuhan yang jemaatnya mempertanyakan kehidupan pribadinya, selalu menggunakan kalimat Daud ini, “Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.” Ini menjadi ayat andalan saat mereka dikritik.
      Tidak bisa disanggah bahwa teologia kemakmuran jauh lebih menarik dan lebih enak didengar. Kalaupun banyak orang dibawa kepada gereja melalui pengajaran dan pengajar teologia kemakmuran, akan tiba waktunya Tuhan memurnikan. Secara pribadi saya tidak bisa tinggal diam dengan pengajaran macam ini. Paling tidak, lewat tulisan-tulisan saya, inilah perjuangan saya.
      Demikian jawaban saya, TUHAN Yesus memberkati.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.