Berbuah: penguasaan diri

      No Comments on Berbuah: penguasaan diri

Tulisan ini sekaligus menutup postingan seri Berbuah. Kita sampai kepada buah Roh yang terakhir, yaitu penguasaan diri. Dalam kitab Galatia, penguasaan diri menggunakan kata “egkrateia” yang secara harafiah berarti “pembatasan, pantangan”.

Kata “egkrateia” ini ditunjukkan kepada sebuah karakter yang mampu menguasai dirinya sendiri. Menjadi tuan atas hawa nafsunya, secara khusus berkaitan dengan seksualitas dan selera makan, tetapi tidak terbatas kepada hal ini saja.

Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:24-27 menuliskan demikian,

(24) Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! (25) Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (26) Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. (27) Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Ada mahkota yang abadi tersedia di surga, tetapi tidak akan bisa kita raih jika kita tidak melatih tubuh kita dan menguasainya seluruhnya. Tubuh ini adalah tubuh daging yang cenderung berbuat dosa, maka melatih dan menguasainya jelas bukan perkara gampang, tetapi kita harus fokus kepada garis akhir di surga, sehingga kita dimampukan dalam penguasaan diri.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.