Berbuah: kesetiaan

      No Comments on Berbuah: kesetiaan

Tulisan berikut adalah re-post dari tulisan berjudul “Big Loyal”. Saya memutuskan memuat khotbah ini dalam judul yang baru karena saya merasa ini pas dengan salah satu dari buah Roh, yaitu kesetiaan.

Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kata setia berasal dari kata “pistos” yang paling tidak memiliki tiga makna:

  • Dapat dipercaya
  • Taat; menjalankan amanat
  • Orang yang percaya, pengikut, penganut

Artinya, itulah ukuran kesetiaan di dalam Alkitab. Ketika Kristus berbicara tentang hamba-hamba-Nya yang setia, Dia sedang menantikan orang-orang yang mau percaya dan mengikuti Dia; taat dalam menjalankan amanat-Nya; dan dapat dipercaya sepenuhnya.

2 Korintus 11:2-3 menyatakan demikian, “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” Kesetiaan orang percaya diarahkan hanya kepada Kristus karena setiap kita adalah perawan-perawan suci yang telah dipertunangkan dengan Dia.

Sementara ketika Tuhan Yesus mengisahkan perumpamaan tentang tiga hamba, kita bisa melihat bahwa di akhir zaman nanti, Sang Tuan akan menagih pertanggungjawaban kesetiaan kita sebagai hamba-hamba-Nya.

Kesetiaan kita yang tertinggi harus diarahkan kepada KRISTUS, kepada karakter-Nya, dan kepada standar-Nya. Artinya, kasih, kesetiaan, dan ketaatan kita kepada sesuatu atau kepada seseorang TIDAK BOLEH melebihi kesetiaan kita kepada-Nya.

Alkitab memberikan banyak sekali contoh dari kesetiaan dan ketidaksetiaan. Setiap tokoh ini mendapatkan balasan sebagaimana pilihan mereka untuk setia atau tidak setia kepada Kristus Yesus.

Raja Saul memilih untuk bertindak tidak setia waktu dia mengingkari amanat untuk memusnahkan Amalek. Dia memilih untuk menaati sebagian kehendak Tuhan. Ketaatan sebagian sesungguhnya adalah ketidaktaatan. Ketaatan yang ditunda juga merupakan ketidaktaatan.

Simon Petrus dengan gagahnya mengatakan bahwa sekalipun semua orang meninggalkan Tuhan Yesus, maka dia akan tetap berdiri bersama-sama dengan-Nya. Tetapi saat pilihan untuk mati martir terpampang di hadapan-Nya, dia memilih untuk menyangkal Yesus. Pelajaran penting: ‘kesetiaan bukan tentang apa yang Anda omongkan, tetapi apa yang Anda kerjakan!’.

Jika kita melihat kehidupan Yudas Iskariot, kurang apalagi sebenarnya. Dipilih secara langsung oleh Sang Guru Agung, hidup 24/7 bersama Tuhan yang hadir di bumi, melihat dan menikmati setiap mujizat, bahkan ikut mengalami kuasa yang begitu luar biasa. Tetapi, pada akhirnya kesetiaannya hanya seharga 30 keping perak. Sungguh ironi.

Sebaliknya, jika kita melihat Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya, kita melihat kesetiaan yang begitu besar. Melihat bagaimana mereka dipercaya menangani dan mengurusi kerajaan yang begitu besar, saya berani menyimpulkan kalau mereka adalah pemuda-pemuda yang setia kepada kerajaan dan raja. Orang-orang percaya juga musti setia kepada pemerintahnya. Tetapi ingat, saat kesetiaan mereka kepada Allah harus ditumbukkan dengan kesetiaan kepada pemerintah dunia, kita tahu apa yang mereka pilih.

Rut adalah teladan kesetiaan atas keluarga dan sahabat. Dia meninggalkan rumahnya, keluarganya, dan bangsanya untuk mengikuti ibu mertuanya, kembali kepada keluarga, bangsa, dan Allah yang tidak pernah ia kenal. Tetapi kesetiaan yang hanya berawal kepada ibu mertuanya itu, membawanya masuk ke dalam ‘takdir ilahi’.

Saulus adalah orang yang sangat setia kepada ‘agamanya’, sehingga dia dengan penuh giat membasmi semua orang yang dianggap melecehkan agama dan kepercayaannya. Tetapi, saat Saulus berjumpa dengan Tuhan Yesus, dan menjadi Paulus, dia mengatakan bahwa semuanya itu hanyalah sampah. Dan dia membuktikan kesetiaan kepada Kristus itu hingga kematian menjemputnya.

Kepada apa dan kepada siapa Anda setia, jangan itu melebihi kesetiaan Anda kepada KRISTUS Yesus. Anda tidak akan mendapat tempat dalam Perjamuan Kawin Anak Domba jika Anda tidak terbukti setia dalam proses ‘pertunangan’ dengan Kristus.

Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (1 Korintus 4:1-2). Jika saya dan Anda membuktikan diri sebagai pelayan dan hamba yang setia, kita layak dipercayakan rahasia-rahasia Allah.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.