Membangun kesetiaan dalam gelap

Kesetiaan adalah salah satu karakter yang dituntut oleh Alkitab supaya kita bangun dalam hidup kita. Sebagaimana pernah saya tuliskan dalam Big Loyal, paling tidak ada tiga makna setia (Yunani: pistos):

  • Dapat dipercaya
  • Taat; menjalankan amanat
  • Orang yang percaya, pengikut, penganut

Mari perhatikan beberapa ayat berikut ini:

Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.[1]

“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya … [2]

“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.[3]

Saya menemukan bahwa nilai kesetiaan terletak di saat Sang Tuan tidak bersama dengan kita. Mudah menjadi setia kepada atasan atau bos kita saat dia sedang mengamati pekerjaan kita. Mudah menjadi setia kepada pasangan kita – suami atau istri – saat kita sedang bersama-sama. Apa yang kita kerjakan saat atasan kita sedang tidak hadir; apa yang kita kerjakan saat pasangan hidup kita sedang tidak di sisi kita, itulah kesetiaan.

Ingat pernyataan ini, yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan … ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.[4] Karena orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.[5]

Apakah kita sudah menjadi bawahan yang setia dan dapat dipercaya oleh atasan kita? Apakah kita menjadi pasangan yang setia dan dapat dipercaya oleh suami atau istri kita? Kesetiaan – seperti juga karakter yang lain – dibangun atau dihancurkan saat tidak ada seorang pun yang melihat kita.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Matius 21:33
  2. [2]Matius 24:45-50
  3. [3]Matius 25:14-15
  4. [4]1 Korintus 4:2
  5. [5]Amsal 28:20

4 thoughts on “Membangun kesetiaan dalam gelap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.