Beragama itu seperti bersekolah

Ini bukanlah tulisan berat, hanya ketikan ringan sembari menunggu waktu istirahat selesai. “Beragama itu seperti bersekolah!” Kira-kira seperti itulah komentar Gus Mus (K.H. Mustofa Bisri) di tayangan Kick Andy saat ditanya tentang begitu banyaknya konflik berlatar belakang agama di Indonesia akhir-akhir ini.

Saya baru “ngeh” dengan pernyataan Gus Mus ini, padahal di komsel sebenarnya sahabat-sahabat saya sering menggunakan analogi anak sekolahan ini dalam kekristenan ketika sedang sharing.

Ya, memang ada orang-orang Kristen yang seperti anak PAUD atau anak SD. Kalau disuruh melakukan sesuatu musti diiming-imingi upah dulu. Mau taat dan tunduk Alkitab asal ada berkat yang mengikutinya. Persis seperti Kristen pak Ogah yang sudah saya tulis sebelumnya.

Ada juga orang-orang Kristen yang ngakunya sudah memegang titel hamba Tuhan, S.Th., M.Th, Pdt., dll tapi kalau sudah berhadapan dengan perbedaan pendapat, tidak bisa menerima. Bukankah ini sama juga dengan anak-anak SMP dan SMA yang masih mau menang sendiri itu.

Contoh berikutnya adalah orang-orang Kristen yang mengaku lebih “pandai” secara rohani itu seringnya begitu gampang menunjukkan jarinya kepada yang lebih “bodoh”, dan menyalahkan. Wah … bener juga ya, persis seperti anak-anak sekolahan.

Tunggu, saya tidak sedang berbicara tentang tingkat pengetahuan kekristenan kita lho ya, yang saya tunjukkan adalah karakter-karakter ilahi yang kita bangun dalam hidup kita.

“(11) Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. (12) Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (13) Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. (14) Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” (Ibrani 5:11-14)

Lalu, kalau memang kekristenan itu seperti sekolah, kita musti apa? Ya terus belajar dong! Jangan berhenti di SMA saja kan, terus belajar jadi Kristen yang lebih baik! Bukan saja pengetahuannya, yang penting  karakternya itu lho. Sudah belasan tahun jadi orang Kristen, kok belum dewasa-dewasa 🙂

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.