Kristen pak Ogah

      1 Comment on Kristen pak Ogah

Beberapa hari yang lalu saya baca satu bagian di Alkitab yang mengingatkan akan tokoh pak Ogah. Kalau Anda seusia saya, masa kecil Anda pasti akan dihiasi tayangan drama boneka Unyil, nah pak Ogah ini salah satunya. Pak Ogah ini dulu terkenal dengan kalimat, “cepek dulu, dong”, setiap kali ada yang meminta dia mengerjakan sesuatu.

Lhoh, memang ada orang Kristen yang seperti pak Ogah? Ayo, kita baca dulu di Matius 20:1-16!

(1) “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. (2) Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. (3) Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. (4) Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. (5) Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. (6) Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? (7) Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. (8) Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. (9) Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. (10) Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. (11) Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, (12) katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. (13) Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? (14) Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. (15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (16) Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

Kalau melihat perikop di atas, Anda ada di pihak siapa? Pekerja yang bekerja sejak pagi atau yang bekerja mulai sore hari? Jangan memihak keduanya, pilihlah berada di pihak Sang Tuan.

Kalau dalam dunia kerja, semakin lama kita bekerja, semakin loyal kita kepada perusahaan, semakin berjasa kita kepada organisasi, maka upah kita akan semakin besar. Tetapi ingat, bacaan di atas menunjukkan bahwa sistem ekonomi dunia jelas bukanlah sistemnya Allah.

Bukankah kebanyakan orang Kristen juga seperti ini? Berapa banyak di antara kita yang berpikir semakin lama kita menjadi orang Kristen seharusnya semakin banyak berkatnya daripada yang orang yang baru saja menjadi Kristen. Semakin kita setia artinya Tuhan harus semakin banyak melimpahkan berkatnya. Hal yang sama seringkali dipraktikkan di gereja, seringkali karena kita jemaat yang sudah bertahun-tahun, maka kita merasa bahwa kita harus lebih dihormati.

Apa bedanya ini dengan mentalitas pak Ogah? Asalkan diberkati maka saya pasti setia dan taat sebagai orang Kristen. Apakah hanya serendah ini level kekristenan kita? Dengarkan kata Sang Tuan, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?“. Mau berapa lama dan sesusah apapun kita mengabdi kepada Tuhan Yesus, cukuplah upah satu dinar itu — satu Surga yang kekal.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Kristen pak Ogah

  1. Pingback: Beragama itu seperti bersekolah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.