Trinity: knowable but incomprehensible

Harus diakui bahwa teologi ketritunggalan Allah adalah sesuatu yang “debatable” sampai sekarang. Sebuah konsep ilahi yang masih sering disalahpahami oleh Gereja di muka bumi. Bahkan masih banyak orang Kristen sendiri yang menentang ketritunggalan Allah ini.

Harus diakui bahwa menjelaskan Allah Tritunggal adalah hampir-hampir mustahil secara rasional. Apalagi dengan tidak adanya satu ayat pun yang menunjuk eksplisit tentang Allah Tritunggal. Maka, tidak bermaksud bahwa saya malas untuk menjelaskan TriTunggal, saya ingin mengunci pola pikir rasionalitas manusiawi kita dengan dua ayat ini.

  • “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” (Ulangan 29:29)
  • “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yohanes 20:31)

God is knowable but incomprehensible. Jadi kalau oleh tulisan ini Anda menguap, ngatuk, dan malas, atau bahkan semakin tidak paham tentang ketritunggalan Allah, saya akan memandangnya sebagai sebuah kewajaran. Tetapi, ini peringatan bagi kita semua, “Tentang ketritunggalan Allah; cobalah untuk memahaminya, Anda akan kehilangan akal (gila); cobalah untuk menolaknya, Anda akan kehilangan jiwa Anda (binasa)”

Adalah benar bahwa Alkitab tidak pernah menuliskan dengan eksplisit tentang ketritunggalan Allah. Tetapi sejak awal zaman, Alkitab menuliskan bahwa Tuhan Allah seringkali menyatakan diri-Nya sebagai entitas jamak, tidak tunggal. Perhatikan bagaimana Allah menyatakan diri sebagai “Kita” saat akan menciptakan manusia. Dalam Perjanjian Lama, Allah menyatakan diri dalam bentuk jamak sebagai Elohim 10 kali lipat lebih sering daripada dalam bentuk tunggal sebagai El. Dalam Perjanjian Baru, kejamakan Allah ini ditegaskan dalam pernyataan Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Tritunggal pertama kali diistilahkan oleh Tertulianus, dan disempurnakan oleh Origenes. Tritunggal seringkali menjadi senjata menyerang kekristenan bahwa agama Kristen tidak menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Bahkan oleh banyak gereja, ke-esa-an Allah ini dipandang tidak mungkin terjadi dalam Allah Tritunggal. Ingat, saat Alkitab berbicara tentang “esa”/satu, Alkitab tidak berbicara dalam konsep dimensi dunia sains. Matematika surga menyatakan bahwa 1 + 1 + 1 = 1. Perjanjian Lama menggunakan kata “echad”, dan Perjanjian Baru menggunakan kata “mia” yang tidak selalu berarti matematis atau dapat dihitung.

Dalam gambar di atas, kita bisa menemukan beberapa prinsip tentang Allah Tritunggal

  • Bapa, Anak, Roh Kudus adalah setara dalam hakekat, tidak ada yang lebih tinggi. Penyebutannya Bapa dan Anak dan Roh Kudus, tidak berarti Bapa lebih tinggi daripada Anak, dan Anak lebih tinggi daripada Roh Kudus. Kadangkala rasul Paulus membalikkan urutan penyebutan ini.
  • Bapa, Anak, Roh Kudus memiliki hakekat yang satu. Bukan tiga Allah yang bersatu, atau satu Allah yang menjadi tiga.
  • Bapa, Anak, Roh Kudus, masing-masingnya adalah pribadi yang berbeda. Memiliki karakteristik pribadi, seperti punya perasaan, kehendak, dll. “Each of Them is Someone not something.”
  • Bapa, Anak, Roh Kudus, masing-masing adalah satu Allah.

Pertanyaan yang sering muncul adalah, bagaimana satu bisa menjadi tiga dan tiga menjadi satu? Mengapa tidak bisa? Pemikiran manusia yang menyebabkannya tidak mungkin. Kenyataan bahwa Allah Tritunggal sulit dipahami, membuktikan bahwa ini berasal dari Surga. Kalau konsep ini – seperti yang dikatakan banyak pengritik – berasal dari manusia, mustinya lebih gampang dipahami.

Mengapa Allah Tritunggal ini perlu dalam iman Kristen? Karena saat ketritunggalan Allah ini ditolak, maka hancur juga kebenaran-kebenaran lain dalam karya Allah. Jika Yesus bukan Allah, maka kematian-Nya dan kebangkitan-Nya adalah sia-sia, karena hanya perbuatan manusia, bukan anugerah Allah. Jika Roh Kudus bukan Allah, maka tidak akan ada pertobatan, dan jelas tidak ada pribadi yang menolong kita berdoa.

Saya berpikir demikian, Allah memilih menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, Roh Kudus, karena “diperlukan” demikian bagi karya-Nya bekerja di dalam umat manusia pada umumnya, dan orang percaya pada khususnya. Jika, tidak diperlukan demikian, saya yakin Allah memilih menyatakan diri-Nya dengan konsep yang lain. Silakan baca Efesus 1:3-14 untuk memahami bagaimana ketritunggalan Allah ini berkarya dalam hidup kita.

Dikhotbahkan di Persekutuan Siswa Kristen SMA Negeri 1 Surakarta (29 Juli 2011)

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.