Layakkah orang Kristen mengungkit-ungkit kebaikannya?

Adalah sebuah kewajaran bagi manusia umumnya untuk meminta kebaikannya dibalas dengan kebaikan. Juga adalah kewajaran pada umumnya jika seseorang memiliki pamrih saat memberikan kebaikan. Bisa saja seseorang tidak punya pamrih saat melakukan kebaikan pada seseorang, tetapi di kemudian hari kebaikan ini diungkit-ungkit untuk menerima balasannya.

Tetapi pertanyaan saya adalah, apakah wajar juga jika orang yang mengaku Kristen mengungkit-ungkit kebaikannya di masa lalu? Pertanyaan ini mengusik hati saya karena beberapa hari yang lalu saya mendengar kisah seseorang yang menagih balasan kebaikan yang sudah dilakukannya puluhan tahun yang lampau.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa mengungkit-ungkit kebaikan adalah sebuah dosa, tetapi Alkitab menunjukkan bahwa jika kita menuntut balas atas kebaikan yang pernah kita berikan, maka ada bahaya yang bisa terjadi dan mengarah kepada dosa.

Coba dibaca dalam 1 Samuel 25:1-44 ada kisah tentang Daud dan Nabal. Sebelum kisah ini terjadi, Daud bersama dengan pasukannya rupanya sudah membuat “kebaikan” kepada para gembala dan kawanan ternak milik Nabal. Dan ketika tiba waktunya musim panen, Daud merasa adalah layak bagi Nabal untuk membalas jasa pengamanan yang diberikannya. Abaikan kebebalan hati Nabal! Perhatikan apa yang sebenarnya diminta oleh Daud, sebuah kebaikan yang dibalas dengan kebaikan.

Masalah utama dari meminta balasan kebaikan ini adalah jika kita tidak menerima balasan yang selayaknya kita terima, maka kita akan menjadi marah. Lihat Daud, waktu Nabal tidak mau membalaskan kebaikannya, Daud marah dan berniat membasmi seluruh laki-laki yang ada bersama Nabal. Beruntung ada Abigail yang mencegah semua hal itu.

Ingat bahwa kecenderungan amarah kita akan berujung kepada dosa. Inilah bahayanya saat kita menuntut supaya kebaikan kita dibalas dengan kebaikan. Ujungnya adalah amarah dan dosa. Saya rasa jika kita tidak siap melakukan kebaikan tanpa pamrih, lebih baik tidak usah melakukan kebaikan. Daripada kebaikan kita akhirnya berujung kepada dosa.

Bahaya berikutnya dari kebaikan yang berpamrih adalah seperti yang dinyatakan Tuhan Yesus dalam Matius 6:1-4. Di sana Tuhan Yesus mencontohkan kebaikan yang “digembor-gemborkan”. Saat kita melakukan kebaikan dengan pamrih, maka sesungguhnya kita kehilangan upah dari Bapa di Sorga. Saat kita menuntut kebaikan kita dibalas dengan kebaikan, upah yang sedianya dipersiapkan bagi kita menjadi hilang.

Saya tidak tahu apakah Anda setuju dengan pernyataan saya ini, “bukankah kebaikan yang diungkit-ungkit sudah menjadi kejahatan?”

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.