Mengapa di Kristen, para nabi juga melakukan dosa?

Komentar: mengapa para nabi di Kristen juga melakukan dosa?

Komentar: mengapa para nabi di Kristen juga melakukan dosa?

Pertanyaan di atas muncul satu tahun yang lalu di kolom komentar. Tepatnya tanggal 11 Januari 2018, dan lepas satu tahun baru saya tuliskan jawaban ini. Saya akan melewatkan pertanyaan tentang perilaku incest dari Lot dan anak-anaknya, karena akan saya jawab dalam pertanyaan di bawahnya yang lebih umum, “Mengapa di Kristen (Alkitab) status para nabi juga melakukan dosa?”

Apakah memang demikian, bahwa di dalam Alkitab – yang katanya kitab suci orang Kristen – itu para tokohnya juga melakukan dosa? Tulisan ini tidak bertujuan untuk membela Alkitab – toh siapa saya membela Alkitab – tetapi menunjukkan pemikiran saya tentang Alkitab sekaligus menjawab pertanyaan salah satu pembaca tulisan saya.

Dalam salah satu khotbah, saya pernah menyatakan demikian, “Tunjukkan kepada saya seorang tokoh Alkitab – kecuali Yesus Kristus Tuhan – dan akan saya tunjukkan kelemahannnya”. Adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa Alkitab penuh dengan pribadi-pribadi yang mempunyai kekurangan, cacat karakter, kelemahan, dan pastinya dosa-dosa. Saya rasa tidak ada satu pun orang Kristen, termasuk para ahli Alkitab, pengajar, pengkhotbah, dan pendeta yang akan menyangkal kebenaran ini.

Nah, yang pertama musti saya tekankan adalah Alkitab itu ditulis oleh manusia. Ya, memang benar demikian, bahkan ditulis oleh orang-orang. Para ahli memperkirakan bahwa Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 orang yang berbeda pada masa masing-masing dalam jangka waktu kurang lebih 1.500 tahun. Alkitab adalah kumpulan tulisan dari orang-orang ini yang kemudian disepakati menjadi kitab sucinya orang Kristen. Sebuah proses yang oleh orang Kristen disebut kanonisasi. Untuk ini ada banyak referensi di internet.

Jadi, Alkitab tidak ditulis oleh Tuhan, apalagi dikarang oleh Yesus sendiri, ataupun turun dari langit dalam bentuk segepok tulisan. Yang ini harus dipahami dan menjadi penekanan saya karena ini penting untuk menjawab pertanyaan di atas yang akan muncul dalam tulisan saya di bawah. Jadi, Alkitab tidak menjadi kitab suci karena diturunkan – katakanlah dari surga – kepada seorang tokoh suci. Alkitab tidak demikian.

Dalam iman Kristen, para penulis Alkitab menuliskan kitab-kitab itu dengan ilham dari Roh Kudus – yang adalah Tuhan sendiri. Dan mereka memiliki tangkapan dan gaya penulisan sendiri-sendiri. Tentu saja sangat bervariasi, tidak mungkin seorang raja memiliki gaya penulisan yang sama dengan seorang nelayan. Tidak mungkin seorang pemungut cukai bisa menulis seperti seorang berpendidikan tinggi. Maka, ketika membaca Alkitab, kita bisa menemukan banyak gaya bahasa dengan latar belakang masing-masing penulis. Ada yang berpola sejarah, ada yang narasi, ada yang surat dan pengajara, ada yang puisi.

Kalau akhir-akhir ini ada polemik dari seseorang yang mengatakan kalau kitab suci itu fiksi, maka untuk Alkitab saya tidak akan tersinggung. Kita menemukan banyak puisi di dalam Alkitab, bukankah puisi termasuk karya fiksi?

Kembali kepada pertanyaan di atas, mengapa tokoh-tokoh di dalam Alkitab – yang kadang dianggap sebagai nabi – juga melakukan dosa? Jawaban saya adalah karena mereka adalah manusia. Ya, tokoh-tokoh Alkitab itu juga manusia, sama seperti saya dan Anda. Saya sedang mengatakan bahwa karena mereka manusia, maka mereka tidak lepas dari dosa. No one is sin-proof. Tidak ada satu pun manusia yang kebal dosa. Saya rasa sampai di sini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas.

Tetapi izinkan saya melanjutkan sedikit lagi. Apakah dengan demikian Alkitab membenarkan dosa-dosa mereka? Apakah kemudian Tuhan Allah seakan menutup mata terhadap dosa-dosa itu? Sama sekali tidak!

Nah, di sini yang bagi saya menunjukkan indahnya Alkitab – yang ditulis oleh manusia. Mengapa para penulis itu – yang adalah manusia – tetap memasukkan semua dosa dan kesalahan serta kekurangan tokoh-tokoh ini dalam tulisan mereka, yang kemudian menjadi Alkitab itu? Kalau dalam bahasa saya, saya menyebutkan di sinilah salah satu keistimewaan Alkitab, yaitu kejujurannya.

Toh, mudah bagi para penulis kitab-kitab ini tidak menceritakan kelemahan dan dosa para tokoh di dalamnya, hanya menuliskan yang baik-baik dan indah-indah secara moral. Tidak, mereka tidak melakukannya. Sekali lagi, pengilhaman Roh Kudus itu nyata dengan mereka membuka semua yang kelihatan di mata manusia sebagai aib dan menuliskannya apa adanya.

Apa bukan sebuah aib seorang tokoh yang terkenal dengan kelembutan hatinya tidak bisa masuk ke tanah perjanjian hanya karena satu kemarahan. Apa bukan sebuah cela jika seorang raja besar berselingkuh dengan istri prajuritnya. Apa tidak memalukan seseorang dengan kekuatan fisik adikodrati jatuh di tangan seorang perempuan. Bagi orang Yahudi yang begitu memperhitungkan garis keturunan, apakah bukan sebuah noda jika dituliskan dengan terbuka ada seorang pelacur di garis keturunannya. Saya yakinkan Anda, bahwa Alkitab disebut kitab suci bukan karena tindakan suci tokoh-tokoh di dalamnya.

Tuntunan Roh Kudus yang membuat para penulis Alkitab ini menuliskan semua kisah dosa para tokohnya, untuk sebuah alasan yang jelas ditulis di dalam Alkitab:

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk MENGAJAR, untuk MENYATAKAN KESALAHAN, untuk MEMPERBAIKI KELAKUKAN, dan untuk MENDIDIK ORANG DALAM KEBENARAN. [1]

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]2 Timotius 3:16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.