Tempat Pelarianku

      No Comments on Tempat Pelarianku

“Mas, dengan jadwal pelayanan dan pekerjaan yang hampir tanpa henti, tidak stress?”

Benar kalau jadwal pelayanan itu berbaris, benar juga kalau pekerjaan itu juga hampir tiada henti, Tapi kalau stress karena pekerjaan atau pelayanan, sepertinya saya belum – dan saya harap tidak akan pernah – sampai di titik itu.

Saya rasa semua orang punya tempat pelarian, demikian pun dengan saya. Ada yang tempat pelariannya itu piknik. Ada juga yang menjadikan aktivitas berbelanja sebagai tempat pelarian. Ada yang bioskop atau mall atau malahan kulineran menjadi tempat pelariannya. Sah-sah saja, toh itu pilihan masing-masing. Asalkan tidak menjadikan pasangan orang lain sebagai tempat pelarian 🙂

Yang jelas bukan TUHAN tempat pelarian saya. Bagi saya Tuhan adalah tempat perhentian. Kapan-kapan saja saya akan menulis tentang tempat perhentian ini, sekarang saya ingin berbagi tentang tempat pelarian saya.

IMG_20190129_185918_HDR

Boleh tertawa lihat gambar di atas. Ya, tempat pelarian saya adalah buku. Selepas kelelahan seharian, sebelum tidur, saya bisa menghabiskan 1-2 jam untuk membaca. Sambil menunggu mesin cuci yang menjalankan tugasnya, buku menemani saya. Kalau sedang di tempat kerja, sambil beristirahat, ratusan buku elektronik yang ada di gawai siap menjernihkan pikiran.

Kalau di rumah orang tua, ada satu lemari pakaian yang terpaksa dialihfungsikan menjadi lemari buku. Daripada memindahkan buku-buku itu, saya memutuskan membangun lagi tempat perhentian yang baru. Maka rak buku baru ini isinya juga masih sedikit.

Dulu salah satu kebahagiaan berkhotbah adalah oleh-olehnya selalu diberi buku. Bisa dibayangkan berapa buku yang saya dapat tanpa mengeluarkan uang. Tapi kalau sekarang, orang lebih sering memberikan uang atau pakaian sebagai persembahan kasih khotbah. Di antara kawan-kawan, dulu kenang-kenangan ulang tahun selalu berwujud buku. Dan sekarang sangat senang kalau ada yang bertanya, “Mas, sudah baca buku ini?”

Genre buku apa yang saya sukai? Saya tidak membatasi diri membaca apapun. Orang tua saya dulu mengatakan kalau buku itu jendela dunia. Kalau saya membatasi jenis-jenis bacaan tertentu, saya mempersempit jendela saya. Maka, setiap kali saya menemukan orang-orang yang punya cara pandang sempit, dalam hati saya selalu berkata, pasti ini orang tidak gemar membaca. Saya membaca hampir semua jenis bacaan. Termasuk bacaan seks dan porno? Mengapa tidak. Buku yang dianggap sesat saja saya baca kok. Coba cari artikel yang berjudul Why You Should Read Books You Hate. Ada banyak buku yang saya baca yang saya tidak setuju isinya, tetap saja saya baca berulang-ulang. O’ya, ini juga kebiasaan saya, mengulang membaca buku yang sudah saya baca selesai, dan bukan cuma sekali mengulang.

Harry S. Truman pernah menyatakan demikian, “not all readers are leaders, but all leaders are readers”. Jika Anda mengaku sebagai pemimpin, tetapi hanya mampu membaca berita hasil berbagi di grup WA, kualitas kepemimpinan seperti apa yang akan Anda pertontonkan. Tidak lucu kalau Anda menyuruh murid-murid Anda gemar membaca, sementara Anda sendiri lebih senang bermain gawai. Bagaimana mungkin anak kita jadi senang membaca kalau dia tidak pernah melihat kita membaca.

Jadi, mau baca buku apa ini hari?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.