Membangun bait Allah yang sejati

Baca: 2 Korintus 6:16-18

Di dalam 1 Korintus 3:16, kita membaca pernyataan seperti ini “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?“. Di dalam terang Perjanjian Baru, yang disebut bait Allah bukanlah gedung gereja, melainkan kita, umat tebusan-Nya.

Dan di 2 Korintus 6:16-18, kita menemukan bahwa sesungguhnya untuk menjadi bait Allah yang sejati, kita tidak dapat hidup dengan sembarangan. Alkitab menunjukkan bahwa ada standar hidup yang benar jika kita mau membangun hidup kita sebagai bait Allah.

Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

Yang pertama, jika kita adalah bait dari Allah, maka seharusnyalah Allah diam bersama-sama dengan kita dan hidup di tengah-tengah kita. Diam (enoikeo) berarti mendiami; tinggal; secara figuratif menyatakan bahwa kita adalah sebuah rumah di mana Allah tinggal menetap di dalamnya. Hidup (emperipateo) diartikan berjalan bersama dengan kita. Membangun hidup sebagai bait Allah artinya hidup kita haruslah menjadi rumah bagi TUHAN dan kehidupan kita berjalan bersama dengan Allah.

Yang kedua, membangun hidup kita sebagai bait Allah, artinya TUHAN menjadi Allah kita dan kita menjadi umat-Nya. Benar-benar menempatkan Allah sebagai TUHAN, dalam bahasa pengajaran sering disebutkan menuhankan Kristus, menyatakan keTuhanan Kristus dalam hidup kita. Kata umat (laos) berarti orang-orang yang menjadi milik TUHAN sendiri. Kita harus memutuskan bahwa pemilik, tuan dari hidup kita adalah Allah.

Yang ketiga, membangun hidup sebagai bait Allah berarti pemisahan dari yang najis menurut Allah. Keluar (exerchomai) menyatakan tindakan meninggalkan sesuatu, sedangkan pisahkan (aphorizo) menunjukkan tindakan membuat batas dan memutuskan hubungan. Sebagai bait Allah kita harus hidup dalam kekudusan serta meninggalkan dan memutuskan hubungan dengan segala dosa dan kenajisan.

Jika ketiga hal tersebut kita kerjakan dalam hidup kita, maka bukan hanya hidup kita menjadi bait Allah, tetapi Allah sendiri menjanjikan bahwa Dia akan menjadi Bapa kita, dan kita menjadi anak-anak-Nya laki-laki dan anak-anak-Nya perempuan. Sungguh sebuah hak yang begitu istimewa.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Membangun bait Allah yang sejati

  1. Pingback: Menggugat omong kosong gereja sebagai Bait Allah | Martianus' Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.