Didi Kempot dan obsesi tentang agama yang njelèhi

Tidak tahu apakah di negara lain juga semacam di sini. Saya kok merasa obsesi orang Indonesia tentang agama orang lain ini sudah memuakkan ya. Apalagi agama orang yang sudah meninggal.

Kemarin, Indonesia kehilangan lagi satu musisi hebat. Tidak sampai hitungan jam, grup-grup Whatsapp saya dipenuhi narasi kehidupan seorang DIONISIUS Prasetyo (benar ditulis seperti itu, dengan satu kata kapital semua dan dicetak tebal), belum lengkap sampai dituliskan bahwa sebenarnya agama sebelumnya adalah xxxx dan berpindah menjadi agama xxxx. Kemudian mulai muncul hoax- hoax lainnya.

Saya pikir akan berhenti di sana, eh lha kok saya salah. Pagi tadi saya baca tulisan seorang sahabat mas Didi Kempot sampai ditelpon, dihubungi sekian banyak orang menanyakan agama mas Didi. Sampai-sampai harus mengunggah foto KTP mas Didi. Kok ya njelèhi tenan obsesi orang tentang agama semacam ini.

Katakanlah mas Didi pernah seagama dengan saya, terus apa pentingnya sih? Tidak bisakah kita bersukacita melihat seorang yang begitu baik dan memberikan dampak kepada banyak orang tanpa harus melihat agamanya. Kalaupun agama mas Didi berbeda dengan agama saya, apakah saya bisa melakukan kebaikan yang sama? Memberikan dampak yang sama kepada sekian banyak orang?

Silakan tanya kepada sobat ambyar yang saya tidak tahu berapa banyak jumlahnya — mungkin ratusan ribu atau lebih — bagaimana mas Didi melalui karyanya memberkati mereka. Maaf saya pakai bahasa berbau kekristenan, karena saya tidak menemukan padanan kata yang lebih tepat menggambarkan dampak dari lagu-lagu mas Didi bagi sobat ambyar. Tidak peduli apapun agama sobat ambyar ini, mau mereka berkalung salib, pakai jilbab, baru pulang dari gereja atau pengajian; mereka akan bergoyang bersama, bernyanyi bersama, bahkan menangis bersama, dan saya yakin tidak ada satupun dari sobat ambyar ini yang mempermasalahkan agama mas Didi.

Saya tidak kenal mas Didi, saya tidak pernah menyanyikan ataupun memainkan satu pun lagunya mas Didi. Kalaupun saya pernah dengar lagunya mas Didi, itu karena tetangga yang senang berkaraoke lagunya mas Didi dengan volume audio yang bisa didengar satu RT dengan tingkat fals yang bisa membangunkan kucing yang baru tidur. Tapi bener, sikap kita yang mempertanyakan agama mas Didi ini sudah njelèhi. Mbok ya ditiru kebaikannya mas Didi itu.

Eh, itupun kebaikan-kebaikan yang nampak lho ya. Kok rasanya banyak kebaikan mas Didi yang tidak ditunjukkan. Ini cuma feeling saya sih. Baru tahu tadi kalau mas Didi pesan 2 ribu masker bertuliskan “sobat ambyar” yang akan dibagikan, dan dilunasi malam sebelum mas Didi wafat.

Untuk keluarga mas Didi, para sahabat beliau, dan sobat ambyar yang berduka, tetap kuat dan tabah ya. Untuk mas Didi, saya mengutipkan satu ayat dari Alkitab. Eh, memang boleh ayat Alkitab untuk orang bukan Kristen? Mboh, sakarepku!

“…. supaya mereka boleh beristirahat dari segala jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.