Guru: digugu lan (aja) ditiru

Mateus 23:3

Mateus 23:3

Pernah menegur anak kecil – dan mungkin beberapa kali – yang dengan mudahnya berbicara kotor atau mengumpat. Kalau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah misuh-misuh. Eh, waktu ditegur dengan enaknya anak ini bicara, “Lha wong pak guru kaé yo misuh-misuk karo ngakak-ngakak kok” (Lha itu pak guru itu juga mengumpat bahkan sambil tertawa-tawa).

Dalam sebuah sarasehan bertema pendidikan di mana saya jadi moderatornya, salah satu yang menjadi perhatian para pembicara dan peserta yang hadir adalah tentang bagaimana anak-anak kita belajar melalui proses meniru. Maka, jangan heran kalau anak-anak kita seringkali tidak mau disalahkan oleh karena mereka merasa meniru apa yang mereka lihat dari orang-orang yang lebih tua.

Tidak, saya tidak sedang melecehkan profesi guru dengan judul tulisan di atas, tetapi sebagai seorang pengajar, rasanya kita harus banyak mengoreksi kehidupan kita. Baik Anda adalah guru, pengajar, pengkhotbah, gembala ataupun pendeta harus menyadari bahwa apa yang kita kerjakan bukan sekedar mentransfer ilmu. Selama ini saya mempercayai bahwa guru itu mentransfer kehidupan kepada murid-muridnya.

Jangan pernah menuntut anak-anak kita gemar membaca, kalau yang mereka lihat dalam keseharian adalah asyiknya kita dengan Whatsapp. Jangan melarang anak-anak kita merokok, karena mereka akan bertanya mengapa gurunya boleh merokok sementara mereka tidak boleh. Jangan harap mereka menjadi santun, kalau polah tingkah kita belingsatan tidak karuan. Jangan pernah berharap mereka jadi pribadi-pribadi yang ramah, kalau setiap hari mereka melihat kita selalu marah-marah.

Di masa-Nya, Tuhan Yesus pernah menghadapi para pengajar yang semacam ini. Dan pernyataan Tuhan kepada mereka sangatlah pedas.

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.[1]

Jangan sampai kalimat ini ditujukan kepada kita. Rekan-rekan saya sesama pengkhotbah, pengajar, guru, tanggung jawab kita tidak berhenti hanya sampai pada mengajar dan mendidik, kita harus menjadi teladan atas apa yang kita ajarkan.

Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat.[2]

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Matius 23:3
  2. [2]2 Petrus 2:17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.