Gereja klandestin di Asia Tengah

minority-christianSaat Uni Soviet runtuh di awal 90-an, hampir semua negara yang berada di bawah naungan Uni Soviet, termasuk di wilayah Asia Tengah, sepertinya membuka diri terhadap kebebasan beragama, berkebalikan dengan rezim Komunis yang berkuasa sebelumnya. Meskipun demikian, kebangkitan kelompok radikal Muslim, bersamaan dengan keinginan pemerintahan untuk mengendalikan kebebasan itu, telah mengakibatkan aniaya terhadap orang-rang Kristen di Asia Tengah, baik oleh pemerintah maupun kelompok radikal.

Di beberapa wilayah Asia Tengah, di mana kelompok radikal Islam bebas berkembang, kekristenan berada di bawah ancaman yang serius. Selain itu, pemerintah juga membuat undang-undang agama yang membatasi gereja untuk bertumbuh.

  • Di tahun 2003, Sergey Bessarab – pendeta dari sebuah gereja Baptis di Tajikistan – dibunuh di rumahnya oleh anggota gerakan Muslim radikal “Al-Bayat”.
  • Di tahun 2010, gembala sebuah gereja karismatik di Makhachkala, Dagestan, Arthur Suleimanov, dibunuh dengan tembakan di kepala.
  • Pada tahun 2012, Kazakhstan mengesahkan undang-undang agama baru yang memaksa gereja-gereja Protestan untuk melakukan pendaftaran ulang, tetapi proses registrasi ini sangat rumit. Sebagai akibatnya, 40% gereja Protestan memilih menjadi gereja bawah tanah

Karena adanya ancaman dari kelompok Islam radikal dan tekanan dari pemerintah, gereja Protestan di Asia Tengah kini beradaptasi menjadi Gereja Klandestin. Gereja klandestin adalah tempat di mana orang Kristen berkumpul secara rahasia di tempat-tempat pribadi, biasanya di rumah atau apartemen, dan mengadakan kebaktian dalam kelompok-kelompok kecil.

“Kami terpaksa memimpin gereja secara rahasia”, dijelaskan oleh Mahmud* (nama disamarkan), seorang gembala dari gereja klandestin di salah satu wilayah Asia Tengah. “Kami tidak ingin melakukan sesuatu yang ilegal dan ingin menjadi warga negara yang taat hukum. Tetapi pemerintah telah membuat kondisi yang mustahil bagi kami dan melarang seluruh aktivitas pelayanan. Ini mengingatkan saya akan bangkitnya Uni Soviet.”

Beberapa waktu yang lalu, polisi menggerebek sebuah rumah di desa Asia Tengah di mana gereja klandestin sedang mengadakan kebaktian. Mereka menginterogasi jemaat dan melarang mereka melanjutkan aktivitas pelayanan.

Berdoa untuk:

  • Pemerintahan di Asia Tengah supaya terbuka terhadap gereja dan tidak lagi menganggap gereja sebagai musuh politik yang harus diwaspadai.
  • Perlindungan bagi orang Kristen di Asia Tengah – khususnya jemaat gereja klandestin – terhadap ancaman dan serangan dari kelompok radikal Islam.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.