Mengukur Kesombongan Diri

      1 Comment on Mengukur Kesombongan Diri

Dua hari yang lalu saya masuk ke sebuah toko buku untuk membeli satu judul buku. Ketika memasuki toko buku itu, saya melihat dua gadis yang saya kenal dan mereka mengenal saya. Beberapa kali saya berkhotbah di Gereja mereka, waktu mereka masih SMA, saya sering berkhotbah di hadapan mereka, beberapa kali saya berkhotbah di Retreat yang mereka ikuti.

Begitu masuk ke toko buku itu, mereka langsung mengenali saya dan memberikan senyuman kepada saya, saya membalas senyuman mereka dan langsung menuju ke bagian rak buku yang saya akan beli. Dalam waktu kurang dari tiga detik, mereka mendekati saya dan memberikan jabat tangan yang hangat sambil menyapa saya.

Karena saya tahu judul buku yang saya mau beli, maka saya menyelesaikan transaksi di toko buku itu kurang dari 5 menit. Saya melihat mereka masih melihat-lihat, saya menyapa mereka dan langsung keluar dari toko buku itu. Semuanya berjalan biasa saja menurut saya.
Di perjalanan pulang, Roh Kudus berbicara sangat kuat, “Mengapa harus menunggu diberikan jabat tangan? Mengapa tidak mendahului menyapa mereka? Mengapa engkau menunggu untuk dihormati? Dan bukan menghormati dulu?”.  Pernyataan ilahi ini sungguh menyentak saya. Saya menepikan motor dan berkata kepada Tuhan, “ampuni aku Tuhan sudah begitu tinggi hati!”.

Saya selama ini belajar bahwa Roh Kudus menyelidik hingga kedalaman hati, bahkan terhadap insting-insting alami yang saya sendiri tidak menyadarinya. Saya bisa saja mendebat Roh Kudus dengan mengatakan bahwa saya tidak pernah berniat untuk tinggi hati. Tapi saya sangat tahu bahwa Roh Kudus jelas lebih mengenal hati saya daripada saya mengenal hati saya sendiri. Ada niat-niat hati yang tidak benar muncul di hati, meskipun itu muncul di alam bawah sadar saya, dan saya tidak menyadarinya, tetapi itu muncul sebagai tindakan yang salah.

Sesampai di rumah, saya menyelidik hati saya dengan sungguh. Dan benar apa yang Roh Kudus katakan, tanpa sebuah kesadaran yang jelas, alam bawah sadar saya mengatakan kepada saya bahwa saya adalah pengkhotbah yang beberapa kali memberkati mereka, dan saya “pantas” mendapat penghormatan lebih. Saya terkaget-kaget dengan hal ini. Kesombongan saya bisa muncul di saat saya tidak menyadarinya.

Sebuah pelajaran berharga pastinya. Tuhan mengingatkan saya bahwa “siapa yang mau menjadi besar, harus menjadi pelayan” (Markus 10:43). Apakah saya menunggu untuk dihormati? Ataukah lebih dulu menghormati? Apakah saya menunggu untuk disapa? Ataukau lebih dulu menyapa? Ketika saya melihat orang saya kenal dan saya kasihi, apakah saya menunggu mereka untuk memberikan jabatan tangan mereka kepada saya? Ataukah saya akan “berlari” dan terlebih dulu menjabat tangan mereka? Sesederhana itulah melihat apakah saya sesungguhnya ada di dalam kehambaan atau di dalam kesombongan dan tinggi hati.

Terima kasih Roh Kudus untuk suara. Terima kasih kepada dua gadis itu yang sudah menjadi tangan Tuhan menempelak saya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Mengukur Kesombongan Diri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.