Prinsip saya tentang persembahan kasih pengkhotbah

Kemarin malam setelah dua kali melayani pemberitaan Firman, seorang kawan yang baru pertama kali masuk dalam pelayanan pemberitaan Firman, kirim sms menanyakan tentang bagaimana prinsip Alkitabiah saat seorang pengkhotbah menerima persembahan kasih. Karena saya belum pernah menemukan prinsip Alkitabiah tentang persembahan kasih bagi seorang pengkhotbah, saya membagikan prinsip saya sendiri.

Ini yang menjadi dasar ayat bagi saya saat menerima persembahan kasih dari pelayanan berkhotbah. “Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” (1 Korintus 9:13-14). Maka inilah pirnsip saya tentang persembahan kasih.

Prinsip #1. Berdasarkan ayat tersebut. saya merasa bahwa saya berhak menerima persembahan kasih yang diberikan karena saya telah memberitakan Injil. Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah menolak persembahan kasih, dan mungkin tidak akan pernah menolak pemberian persembahan kasih dari pemberitaan Injil, baik itu berbentuk uang ataupun benda.

Prinsip #2. Saya bukan seorang pendeta full time, atau pengkhotbah full time, yang menggantungkan seluruh hidup saya dari pemberitaan Firman. Saya bekerja di bidang sekuler — di luar pelayanan gerejawi –, saya berkhotbah hanya jika ada undangan atau permintaan untuk berkhotbah. Maka, meskipun saya merasa berhak untuk menerima persembahan kasih, saya juga merasa bahwa saya TIDAK berhak untuk MEMPERGUNAKAN persembahan kasih itu.

Prinsip #3. Karena saya merasa tidak berhak mempergunakan persembahan kasih itu, maka setiap persembahan kasih yang saya terima dari pelayanan berkhotbah, akan saya kembalikan 100% kepada Tuhan. Seluruhnya? Yup, saya sudah berhenti menghitung-hitung persembahan minimal yang harus saya persembahkan kepada Tuhan. Malahan, saya berkali-kali menguras seluruh uang cash yang ada di dompet saya, untuk dipersembahkan saat saya berkhotbah.

Prinsip #4. Kalau saya diundang berkhotbah di gereja atau persekutuan atau rumah tangga yang kurang mampu, dan mereka memberikan persembahan kasih, inilah yang biasanya saya ucapkan, “Terima kasih, saya menerima persembahan ini dengan penuh sukacita, dan dengan sukacita pula saya mempersembahkannya di tempat ini”. Saya tidak menolaknya, saya menerimanya dan mempersembahkan seluruhnya di tempat itu.

Jika saya diundang di tempat yang menurut saya masuk dalam kategori berada dan mampu, maka persembahan kasih yang saya terima akan saya pecah dalam beberapa bagian untuk saya persembahkan semuanya ke beberapa gereja lain yang membutuhkan. Saya membatasi diri saya untuk memberikan persembahan kepada satu tempat dalam jumlah yang besar, saya kuatir akan adanya kemungkinan bahwa persembahan saya akan menghalangi proses Allah yang adikodrati bagi tempat itu. Paham kan maksud saya?

Prinsip #5. Kalau persembahan kasih yang saya terima berupa benda atau barang, saya akan mencari tahu harga barang itu dan kembali ke prinsip #2 s.d. prinsip #4 di atas.

Mungkin ada pertanyaan, bagaimana jika undangan berkhotbah ke luar kota, bagaimana biaya perjalanannya. Begini, saya percaya saat Tuhan mengutus, maka Tuhan Yesus pasti menyertai, termasuk menyediakan biaya perjalanannya. Dari mana? Ya dari uang yang saya dapat dari berkat-Nya saat saya mengerjakan pekerjaan yang lain to. Maaf, saya tidak setuju dengan konsep memiutangi Tuhan. Siapa saya dan siapa Tuhan Semesta Alam itu? Bagaimana saya yang tidak punya apa-apa ini bisa memiutangi Dia, Sang Kaya Pemilik Segala Sesuatu? Saya melayani dan berkhotbah untuk membalaskan anugerah-Nya yang tak terkira, bukan untuk memiutangi atau mencari berkat-Nya.

Jangan berpikir saya melakukan semua ini karena saya kaya dan punya banyak uang. Sahabat-sahabat saya sangat tahu bagaimana kehidupan saya. Saya masih bekerja keras dan bergumul membanting tulang untuk mendapatkan uang, dan saya masih memerlukan uang … koreksi … memerlukan banyak uang 🙂 Sama seperti Anda, saya juga ingin jadi kaya lho 🙂 Tetapi, untuk semua yang saya dapat dari Tuhan, saya tahu bahwa saya bisa dan harus berkata cukup.

Karena itulah lima prinsip di atas yang saya pegang ketika menerima persembahan kasih dari pelayanan berkhotbah. Bagi sahabat-sahabat saya yang juga memiliki pelayanan berkhotbah, ini hanya prinsip pribadi lho, belum tentu Alkitabiah, jadi tidak perlu mencontohnya ya. Ini sekedar sharing prinsip hidup saja.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

2 thoughts on “Prinsip saya tentang persembahan kasih pengkhotbah

  1. Kristian Adhi Nugroho

    Kalau persembahan kasih untuk pelayan pujian (Imam Lewi, yaitu pemusik WL dan singer) ada ngga dasar alkitabiahnya? Sama satu lagi, ini Mas Antut ya?

    Reply
    1. martianuswb Post author

      Nggih mas, niki kula.
      Prinsipnya sama saya rasa. Pelayan berhak menerima persembahan kasih. Cuma tidak pas menyamakan gereja dengan Bait Suci atau pelayan pujian dengan imam Lewi. Di masa itu imam Lewi ‘kan tidak bisa bekerja yang lain, jadi nafkah hidup mereka ya cuma dari persembahan dan persepuluhan umat Israel.
      Pelayan pujian juga berhak menerima persembahan kasih. Artinya, bisa juga berarti berhak untuk tidak menerima. Kemudian yang berlaku mungkin cuma asas kepatutan saja, mas. Saya menemukan banyak gereja yang menggaji pelayan pujiannya, beberapa menerimanya dan juga banyak yang memilih menolaknya.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.