Bersaksi: corpus, mata, dan pintu

Seberapa sering kita menceritakan kesaksian hidup kita? Siapa yang sering menjadi fokus kesaksian kita? TUHAN ataukah diri kita sendiri? Menceritakan kesaksian hidup karena kebanggaan kita akan Kristus Yesus dengan untuk menyombongkan diri sendiri sangatlah tipis bedanya. Kita musti sungguh meneliti hati kita, dengan jujur memeriksa niat dan motivasi terdalam dalam hidup kita.

“Kamu inilah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan Akulah Allah.[1]

Piktograf "saksi": mata dan pintu

Piktograf “saksi”: mata dan pintu

Dalam karya penyelamatan-Nya atas hidup kita adalah tujuan TUHAN supaya kita menjadi saksi-Nya. Perhatikan ayat di atas! Saksi atas apa? Bahwa Kristuslah Tuhan dan tidak ada Juruselamat selain dari pada Dia. Maka haruslah Kristus yang menjadi pusat kisah kehidupan yang keluar dari mulut kita. Ketika orang lain mendengarkan kisah hidup kita, haruslah Kristus yang mereka dengar. Bukannya pencapaian, bukannya prestasi, bukannya hal-hal yang mampu kita kerjakan.

Dalam bahasa Ibrani, kata saksi ditulis sebagai ‘ed yang salah satu artinya adalah bukti. Dalam bahasa dunia hukum dikenal dengan istilah corpus. Hidup kita haruslah menjadi bukti. Bukti apa? Baca kembali ayat di atas! Bukti bahwa Kristuslah Tuhan.

Kata ‘ed dalam piktograf digambarkan dalam dua bentuk: mata dan pintu (jalan setapak). Ah … luar biasa Alkitab itu ya. Menjadi saksi artinya mencipta hidup kita supaya orang melihat pintu atau jalan itu. Perlukah saya ingatkan siapa Sang Jalan itu? Nah, kalau kemudian kita yang mengaku orang Kristen tetapi orang lain tidak bisa melihat Sang Jalan Keselamatan itu di dalam hidup kita, bukankah kesia-siaan belaka hidup kita ini.

Mengaku Kristen tetapi tidak pernah memperdengarkan Tuhan Yesus yang sejati, mengaku Kristen tetapi hidupnya tidak menunjukkan Kristus itu, sudahlah lebih baik berhenti saja jadi orang Kristen. Lhah, ini malah mengajak orang murtad. Bukan! Saya ini sangat mengasihi Anda. Lebih baik kita tahu kesalahan kita mulai sekarang dan bertobat, daripada kita merasa benar tetapi di pengadilan terakhir nanti kita ditolak-Nya.

“But you are my witnesses.” God’s Decree. “You’re my handpicked servant So that you’ll come to know and trust me, understand both that I am and who I am. Previous to me there was no such thing as a god, nor will there be after me. I, yes I, am God. I’m the only Savior there is.I spoke, I saved, I told you what existed long before these upstart gods appeared on the scene. And you know it, you’re my witnesses, you’re the evidence.” God’s Decree. “Yes, I am God.[2]

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yesaya 43:10-12
  2. [2]Isaiah 43:10-12 – The Message

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.