Berbuah: dalam pengertian terhadap kebenaran Firman

“Menjadi Kristen itu tidak perlu pintar-pintar, tidak usahlah terlalu mengerti Firman, yang penting percaya saya, dan lakukan Firman itu”. Pendapat ini sering diperdengarkan kepada umat Tuhan, sepertinya pandangan yang baik ya, tapi ini tidaklah benar.

Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa kita harus mengerti Firman Tuhan dengan sebaik-baiknya, karena dengan itulah kita bisa berbuah. Mari baca dalam Matius 13:19-23

(19) Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. (20) Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. (21) Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. (22) Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. (23) Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.

Dalam ayat 23, jelas dikatakan bahwa orang yang berbuah itu adalah mereka yang mendengar Firman dan mengerti. Jadi, harus ada pengertian terhadap Firman Tuhan, kebenaran Firman yang Alkitabiah.

Saat kita tidak mau belajar dan tidak mau mengerti Firman, dan menerima apa saja yang diperdengarkan oleh pengkhotbah, kita tidak bisa membedakan mana Firman yang berisi kebenaran dan mana firman yang diisi pengajaran yang palsu. Ada beberapa hal yang bisa membuat kita salah mengerti firman.

Pertama, ayat 22 dengan tegas menyatakan bahwa kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan bisa menghalangi kita mengerti kebenaran Firman Tuhan. Hati-hati! Banyak pengajaran yang lebih sering memperkatakan kekayaan duniawi daripada kebenaran yang sejati dari Firman Allah itu sendiri.

Kedua, ayat 20-21 menunjukkan bahwa ketidak tahanan kita dalam menghadapai penindasan dan penganiayaan bisa membuat kita tidak mampu mendapat pengertian akan kebenaran Firman Tuhan. Penindasan dan penganiayaan pasti terjadi dalam hidup setiap orang percaya, tetapi bukan itu penyebabnya, melainkan bagaimana iman kita dan ketahanan kita dalam menghadapinya. Kalau sebagai orang Kristen, kita berpikir bahwa bahwa hidup kita akan selalu diberkati, mulus, dan tanpa hambatan, maka saat datang penindasan dan penganiayaan, kita tidak akan mampu berbuah — dan “murtad”.

Ketiga, ayat 19 menyatakan bahwa orang Kristen yang sudah tidak mau belajar untuk mengerti kebenaran  Firman Tuhan, pasti tidak akan berbuah.

Mari, izinkan Roh Kudus membaharui akal budi kita, sehingga kita mampu mengerti kebenaran Firman dan olehnya menjadi berbuah-buah.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.