Kritis terhadap khotbah itu perlu

Tidak ada pengkhotbah yang sempurna. Tidak ada khotbah yang tidak pernah salah. Karena itu para pendeta dan pengkhotbah membutuhkan kita jemaat dan orang Kristen sebagai Gereja yang kritis. Sampai di titik ini saya yakin banyak pendeta dan gembala setuju dengan pernyataan saya ini. Tetapi kalau kemudian kekritisan itu kemudian berlanjut kepada kritik, belum tentu mereka akan sependapat.

Saya rasa merupakan sebuah rantai alami kalau pola pikir yang kritis memunculkan kritik. Karena tidak ada satu pun di antara kita yang sempurna, maka hal yang lumrah kalau kita membutuhkan kritik. Tidak ada yang haram dengan kritik, dan saya rasa tidak berdosa – apalagi terkutuk – untuk memberikan kritik kepada gembala atau pendeta kita selama itu dilakukan dalam kebenaran Firman Tuhan. Toh, firman Tuhan pun berperan sebagai kritik.

Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.[1]

Kata “membedakan” di ayat ini menggunakan kata kritikos yang jika ditelusur akan kembali kepada akar kata krino. Kata ini mempunyai makna berpikir, mempertimbangkan; memilih, menyeleksi, memisahkan.

Apakah Anda mau mendengarkan khotbah tanpa mempertimbangkannya? Hanya menelan mentah-mentah begitu? Kritis itu berarti kita memikirkannya dalam-dalam dan mempertimbangkannya untuk memilih dan memilah, bukan untuk menghakimi. Jadi, ayo kritis dengan khotbah dan pengajaran yang kita dengar.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Ibrani 4:12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.