Saat kita berkata “ya” kepada Tuhan (1)

Pernahkan Anda memperhatikan saat Tuhan memanggil tokoh-tokoh di dalam Alkitab? Bagaimana mereka ini menjawab panggilan Tuhan? Kita bisa temukan ada beberapa tokoh ini yang langsung menjawab “ya” terhadap panggilan Tuhan. Tetapi, kita juga temukan beberapa tokoh Alkitab seperti Musa dan Yeremia yang terlebih dahulu “beralasan” sebelum berkata “ya” kepada panggilan Tuhan.

Tulisan saya kali ini ingin menunjukkan bahwa mungkin mudah untuk mengatakan “ya” kepada panggilan dan kehendak Tuhan, tetapi melakukannya tidak semudah mengatakannya. Apa yang sebenarnya terjadi saat kita mengatakan “ya” kepada Tuhan?

Dalam tulisan pertama ini, saya ingin menegaskan bahwa saat kita mengatakan “ya” kepada Tuhan, hidup kita tidak akan pernah mulus-mulus saja. Kita bisa dibawa-Nya menuju ke puncak, dan juga ke lembah; ke saat-saat penuh sukacita, dan juga ke masa-masa penuh air mata. Ada waktu di mana kehadiran Tuhan terasa begitu nyata, tetapi ada juga masa-masa seakan-akan Dia meninggalkan kita.

Saat kita berkata “ya” kepada panggilan-Nya, itu tidak berarti Dia akan berkata “ya” untuk setiap doa-doa kita. Lihat hidup Abraham dan Paulus, bahkan Tuhan Yesus pun pernah mendapat jawaban “tidak” dari Bapa. Saat kita mengatakan “ya” kepada Tuhan, Dia mengajarkan kita untuk beriman kepada-Nya, meskipun bisa jadi kita tidak pernah melihat buah dari iman itu.

Banyak pengkhotbah mencontohkan kehidupan Daud yang mengatakan “ya” kepada panggilan Tuhan, dan mendapat kemuliaan serta kekayaan yang berlimpah. Lalu orang Kristen mengaminkan dengan mengatakan bahwa Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kelimpahan. Ada yang kita lupakan bahwa Daud pun harus berlari di padang gurun dari kejaran Saul, berpura-pura menjadi gila, dan banyak perjuangan lainnya. Tidak ada jaminan bahwa mengatakan “ya” kepada Tuhan akan membuat hidup kita berakhir di sebuah istana dengan kelimpahan berkat duniawi. Bisa jadi seperti Paulus yang hanya hidup di sebuah rumah kontrakan dan mengakhiri hidupnya dengan kepala terlepas dari tubuhnya.

[youtuber youtube=’http://www.youtube.com/watch?v=sjCI5BBenoM’]

Kalau ada yang mengatakan kehidupan itu seperti roller coaster, mungkin bisa saja dilihat seperti itu. Kadang naik, kadang turun, diputar-putar, yah seperti itu. Tetapi saya menemukan farafrase yang unik dari terjemahan The Message.

God, who got you started in this spiritual adventure, shares with us the life of his Son and our Master Jesus. He will never give up on you. Never forget that.[1]

Pernah baca manga karya Eiichiro Oda yang judulnya One Piece. Itu lho kisahnya Luffy dan kawan-kawannya yang mencari harta karun. Itu contoh petualangan. Oda membuat sebuah kisah yang cukup realistis, di mana tokoh utamanya tidak selalu mengalami kemenangan. Ada masa-masa kegembiraan, tetapi juga ada masa-masa kehilangan. Ada waktu kemenangan, ada juga waktu mengalami kekalahan. Ada waktu-waktu dan tempat-tempat di mana hal-hal yang tidak terduga muncul, itulah petualangan.

Menjadi seorang Kristen dewasa itu menyadari bahwa kita tidak hidup di dalam dunia yang mistis. Di mana segala sesuatu bisa diselesaikan dengan yang namanya mujizat dan keajaiban ilahi. Di mana kita memiliki kesaktian atau jimat yang membuat kita bisa memenangkan semua pertempuran. Tidak seperti itu. Bangunlah! Kita ini hidup di dunia yang nyata, realistislah dengan kehidupan kekristenan kita, sebuah kehidupan yang penuh dengan perjuangan. Sebuah petualangan rohani, itulah yang akan kita alami saat kita mengatakan “ya” kepada Tuhan. Dia memang tidak pernah menjanjikan perjalanan mulus tanpa hambatan. Ikuti saja “peta-Nya” Tuhan, hingga akhirnya kita menemukan harta yang tak tenilai harganya itu.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]1 Korintus 1:9 – The Message

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.