Sebuah delusi yang bernama ‘pertumbuhan gereja’

Ini tulisan sudah saya buat sebelumnya di blog yang satunya. Saya rasa perlu juga dipindahrumahkan ke sini.

Silakan tanya data statistiknya ke mbah Google, dalam sepuluh tahun terakhir ada pertumbuhan gereja yang fantastis di negeri ini, sekitar 150-170%. Bahkan beberapa organisasi Islam berani mengklaim angka 200%, jika dimasukkan gereja-gereja ‘ilegal’ yang belum punya IMB. Okelah, kita pakai angka 200% ini saja.

Angka yang fantastik memang, tetapi apakah layak dibanggakan? Bagi saya ini menakutkan dan mengkhawatirkan. Mengapa? Katakanlah benar dalam sepuluh tahun terakhir ada pertumbuhan gereja 200%, berapa pertumbuhan orang Kristen? Silakan cari statistiknya sendiri, tapi dari Sensus 1971 hingga sensus 2000 ada pertumbuhan orang Kristen sebesar 2,48%. Katakanlah kalaupun ada perkiraan maksimal hingga sekarang, kurang lebihnya 3-4%.

Sekarang kita bikin rata-ratanya tiap tahun ya. Silakan dihitung, ada pertumbuhan gereja sebesar 20% pertahun, sementara pertambahan orang Kristen hanya 0,1% pertahun. Artinya, pertumbuhan gereja di Indonesia mencapai 200 kali lipat dari pertumbuhan orang Kristennya. Masih bisa bangga dengan angka-angka ini?

Karena itulah saya menyebut pertumbuhan gereja di Indonesia ini sebagai delusi. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendeskripsikan delusi sebagai berikut

[n Psi] pikiran atau pandangan yg tidak berdasar (tidak rasional), biasanya berwujud sifat kemegahan diri atau perasaan dikejar-kejar; pendapat yg tidak berdasarkan kenyataan; khayal

Data pertumbuhan gereja di atas adalah fakta, tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Mengapa ini bisa terjadi? Bagaimana gedungnya bisa bertambah 200 kali lipat dibandingkan isinya? Saya akan mengungkapkan beberapa kemungkinannya, meskipun saya tahu banyak juga orang Kristen dan gereja yang tidak suka tulisan saya ini.

Pertama, kalau di gereja saya hal ini sangat mungkin terjadi. Dulu ada satu gereja induk yang melayani jemaat dalam area geografis yang luas. Karena jarak yang jauh maka dibuat gereja-gereja cabang (Jawa: pepanthan). Secara statistik masih terdaftar sebagai satu gereja.

Dengan waktu, gereja-gereja pepanthan ini akhirnya didewasakan menjadi gereja mandiri. Artinya, bertambah satu gereja baru, tetapi jemaatnya adalah jemaat gereja induk yang dilayani di gereja pepanthan itu. Gereja induk mengalami pengurangan jumlah jemaat yang kemudian menjadi jemaat gereja pepanthan yang baru saja didewasakan sebagai gereja mandiri itu. Maka benar, ada pertambahan gereja baru, tetapi jemaatnya sebenarnya relatif konstan.

Kedua, ini merupakan fenomena yang tidak bisa dibantahkan, yaitu perpindahan jemaat antargereja. Memang muncul gereja-gereja baru, tetapi jemaatnya datang dari gereja-gereja lain yang sebenarnya sudah jauh lebih lama berdiri. Maka benar, ada banyak pertambahan gereja-gereja baru, tetapi jemaat secara global tetap konstan, karena gereja-gereja lainnya kehilangan jemaat yang berpindah ke gereja baru ini.

Dan sayangnya juga merupakan fenomena yang tidak terbantahkan kalau banyak gereja dan organisasi gereja yang baru, lahir dalam proses yang tidak sehat. Berapa banyak gereja dan organisasi gereja baru yang muncul melalui perselisihan, perpecahan, pertengkaran?

Kalau tidak setuju dengan pendapat saya, ya silakan saja. Tetapi, ayo kita bikin tantangan terbuka. Masing-masing gereja Anda, buat statistik yang sahih. Semenjak gereja Anda berdiri, tolong tunjukkan:

  • Pertama, berapa persen jemaat baru yang datang dari agama atau kepercayaan lainnya (baca: pindah agama)?
  • Kedua, berapa persen jemaat baru karena proses kelahiran dari keluarga jemaat?
  • Ketiga, berapa persen jemaat baru yang datang dari gereja lain?

Masih mau bangga dengan delusi ini?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.