Ngeblog dan ngetwit, gampang yang mana sih?

Tulisan ini sebenarnya muncul karena saya membaca banyak tulisan kawan-kawan blogger yang menunjukkan bahwa ada kecenderungan bahwa ngeblog mulai kalah oleh aktivitas ngetwit (atau update status). Akibatnya, banyak blog yang kemudian mati suri, atau paling tidak mulai dipakai oleh laba-laba untuk membangun sarangnya.

Memang tidak ada aturan yang mengatakan bahwa bog harus diupdate secara rutin. Juga tidak ada provider blog gratis yang punya kebijakan menghapus blog jika sudah tidak diupdate untuk jangka waktu tertentu. Tetapi dilihat dari segi kewajaran saja, apakah wajar jika blog ditinggalkan berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tanpa pernah diupdate lagi? Apakah wajar kalau pemilik blog bisa ngetwit setiap hari, sementara blognya diupdate tahunan?

Ada juga yang mempertanyakan buat apa ngabisin waktu ngeblog, lha wong tidak ada yang baca tulisan kita. Wah, kalau yang ini sih beda paradigblognya sih. Kalau paradigblog (paradigma ngeblog)-nya tentang banyak sedikitnya pengunjung, banyak sedikitnya yang ngasih komen, yah beda dengan pola pikir saya. Sejak saya mulai ngeblog sampai sekarang, terbukti hanya satu-dua orang sahabat yang rajin ngikuti tulisan-tulisan saya, jauh lebih banyak adalah mereka yang tidak pernah saya kenal. Artinya mau dibaca atau tidak, saya tetap ngeblog. Buktinya, mbah Google yang menolong saya “menyesatkan” orang untuk masuk dan membaca blog saya kok 🙂

Meskipun iya, saya yakin sih kalau kebanyakan kita mengatakan ngetwit lebih gampang daripada ngeblog. Meskipun secara subjektif, saya lebih memilih ngeblog daripada ngetwit. Tetapi saya bisa memahami kalau dalam hal praktikalitas, ngetwit lebih mudah daripada ngeblog.

Untuk ngeblog paling tidak kita musti tahu cara membuat blog, setting blog, dll. Apalagi untuk update dan memperindah blog, kita musti ada di depan komputer, atau musti punya smartphone yang benar-benar smart. Sementara untuk ngetwit, kita bisa pakai hampir semua jenis telepon seluler, dengan pulsa yang cukup, selesai! Jadi, mau tidak mau saya mengakui bahwa ngetwit lebih praktis daripada ngeblog.

Apalagi adanya pandangan bahwa ngeblog itu berarti memuat tulisan yang panjang, sementara ngetwit cukup 140 karakter saja. Artinya lebih sukar memikirkan apa yang musti ditulis di blog daripada ngetwit. Plus, Twitter memegang predikat mikroblogging, yang artinya jauh lebih kecil (dengan harapan lebih mudah) daripada ngeblog. Padahal siapa bilang kalau ngeblog itu harus panjang-panjang, harus topik yang dipikirkan dulu. Lihat saja bagaimana blog-blog yang populer sekarang, isinya cenderung ringan, pendek, menghibur. Bahkan saya tahu ada blog yang isinya cuma gambar atau bahkan potongan video.

Dari sisi kesamaan, ngeblog dan ngetwit sama-sama kegiatan menulis. Menurut Dr. Henry Guntur Tarigan, ketrampilan berbahasa meliputi empat komponen berikut:

  1. Ketrampilan menyimak (listening skills)
  2. Ketrampilan berbicara (speaking skills)
  3. Ketrampilan membaca (reading skills)
  4. Ketrampilan menulis (writting skills)

(Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa; Tarigan, 1981:1)

Karena merupakan suatu ketrampilan, maka menulis dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan. Melatih ketrampilan berbahasa berarti pula melatih ketrampilan berpikir. (Guiding Language Learning; Dawson, 1963:27).

Dalam kehidupan modern seperti sekarang, jelas bahwa ketrampilan menulis sangat dibutuhkan. Tidak berlebihan sebenarnya bila dikatakan bahwa ketrampilan menulis merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. (Tarigan, 1981:4). Menulis juga merupakan suatu cara berkomunikasi di mana setiap penulis bisa menyampaikan gagasan/idenya kepada pembaca tanpa harus bertatap muka secara langsung.

Maka, dalam konteks menulis negblog dan ngetwit adalah sama, tetapi sekali lagi dalam sisi kepraktisan, kedua hal ini jelas berbeda. Saya mengamati banyaknya tweeps yang senang ngetwit lebih dari 140 karakter, baik melalui aplikasi perpanjangan tweet, atau melalui tweets berseri. Mengapa tidak memindahkannya di blog saja sekalian?

Bagaimana menjembatani ngeblog dan ngetwit ini? Kalau kita punya tweet berseri, disalin saja dan dimasukkan ke blog. Atau sebaliknya, potong-potong tulisan di blog kita dan tuliskan di Twitter. Bukannya saya melarang kawan-kawan blogger untuk ngetwit lho, cuma ya jangan dilupakan blognya dong 🙂

Dulu ada seorang yang ngaku ahli telematika pernah berkomentar kalau blog itu cuma tren sesaat. Lalu banyak kawan-kawan blogger yang mengomentari, mencerca komentar sang ahli ini. Sekarang, ayo kita buktikan benarkan komentar sang ahli itu!

Kawan-kawan blogger, ayo semangat ngeblog!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

2 thoughts on “Ngeblog dan ngetwit, gampang yang mana sih?

  1. firman

    Menurut saya ngeblog dan ngetwit punya kelebihan masing-masing. Tinggal kita saja ingin memilih mana. Terus semangat untuk Ngeblog.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.