Santun menanggapi hubungan Indonesia-Malaysia

Okay, ini pertama kalinya saya menulis tentang politik. Sebenarnya ada rasa enggan, takut dikira memihak atau ada yang salah dengan pendapat saya. Tetapi lebih baik melakukan dan salah, daripada tidak melakukan apapun. Jadi, kalau tulisan ini tidak sesuai dengan pendapat Anda, mohon dimaafkan.

Baru kemarin saya sempat membaca teks lengkap pidato Presiden mengenai hubungan Indonesia dan Malaysia yang kembali memanasa akhir-akhir ini. Sekali lagi, tulisan ini adalah pendapat pribadi saya. Ada juga rasa geram dalam diri saya berkaitan dengan tindakan Malaysia yang seakan-akan menginjak-injak kedaulatan negara kita. Tetapi mencermati pidato Presiden tersebut, ada beberapa hal yang bisa saya tangkap.

Banyak orang menilai Presiden tidak bersikap tegas dalam konflik dengan Malaysia ini. Pertanyaannya adalah, seberapa tegas Presiden seharusnya? Saya mengharapkan Presiden akan berpidato dengan berapi-api, bersuara keras, untuk “mengganyang” Malaysia, seperti Presiden Soekarno, atau Surya Paloh kalau zaman sekarang. Cuma, jika mencermati pidato Presiden itu, saya tahu bahwa saya salah mengharapkan demikian. Kalau ada seorang teman yang menyinggung saya, saya tinggal datangi dia dan damprat dia. Cuma, masalahnya ini kan hubungan antara dua negara, jadi pasti tidak sesederhana itu.

Dari isi pidato beliau, saya melihat Presiden kita ini cenderung memikirkan dan mempertimbangkan beberapa aspek, sampai beberapa kali, sebelum beliau membuat keputusan; atau hanya untuk sekedar mengeluarkan statement. Saya tahu kadangkala beliau juga bisa mengambil keputusan dengan cepat, dan biasanya cermat; tentu saja pada beberapa kondisi tertentu. Cuma, dalam kasus dengan Malaysia ini, saya melihat Presiden kita memilih untuk membuat pertimbangan yang cermat — yang oleh banyak orang dianggap lamban atau tidak tegas. Tidak! Saya tidak sedang membela Presiden, saya sedang menghormati cara beliau memutuskan sesuatu dengan melihat kondisi-kondisi tertentu.

Nah, berkaitan dengan hal tersebut, saya mencoba mengusulkan sesuatu kepada pemerintah. Moga-moga didengarkan, meskipun sebenarnya usul saya ini sudah ada di dalam isi pidato Presiden tersebut, tetapi mungkin banyak orang tidak melihat substansinya.

Pertama. Saya melihat salah satu masalah besar dari hubungan Indonesia-Malaysia sebenarnya ada di perbatasan. Banyak konflik kita dengan mereka karena adanya ketidakjelasan masalah perbatasan ini. Selama ini, dalam perjuangan diplomasi tentang perbatasan, Indonesia lebih sering kalah. Saya usul, supaya kali ini jangan mau Indonesia kalah lagi. Mungkin di sini ketegasan pemerintah akan nyata. Kalau perlu ngotot, dalam perjuangan diplomasi soal perbatasan ini. Juga sekaligus diperbincangkang kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diterapkan jika terjadi pelanggaran batas wilayah. Jangan lagi peristiwa seperti kemarin terjadi lagi.

Kedua. Masalah TKI di Malaysia yang tidak mendapat kepastian perlindungan hukum. Jika ada sekian banyak TKI kita di Malaysia, di satu sisi itu berarti bangsa dan negara ini belum bisa memberikan lapangan pekerjaan yang cukup untuk rakyatnya. Usul untuk memulangkan seluruh TKI, menurut hikmat saya tidak tepat lhah. Lebih baik segera diselesaikan permbicaraan tentang undang-undang bagi kepastian perlindungan hukum TKI di Malaysia. Jika Malaysia tidak segera menyusunnya, lebih baik bekukan dulu pengiriman TKI ke Malaysia, atau kirim TKI kita ke negara lain.

Ketiga. Berkenaan dengan beberapa warga negara Indonesia yang dijatuhi hukuman mati, pemerintah harus memberikan bantuan hukum yang sewajarnya. Maksud saya dengan sewajarnya adalah, jika mereka memang terbukti secara sah bersalah melanggar hukum, ya jangan membela mereka untuk mendapat kebebasan. Saya menolak setiap hukuman mati, termasuk di negara kita. Bela mereka supaya ada pengurangan hukuman. Tetapi jika mereka tenyata tidak terbukti secara sah bersalah, maka pemerintah kita harus mengusahakan pembebasan mereka. Pemerintah kita punya kewajiban memberikan bantuan hukum kepada WNI di negera lain, tetapi hukum pun tetap harus dijunjung tinggi.

Keempat. Berkenaan dengan usulan perang dengan Malaysia, eh … sudah menghitung harganya atau belum? Saya pikir jika perang terjadi, rakyat yang lebih banyak menanggung akibatnya, dan percaya saya, harganya terlalu mahal.

Okey, itu deh semua tulisan saya. Kalau Anda tidak setuju dan punya pendapat lain, saya akan menghormatinya. Jika Anda tersinggung dengan tulisan saya, saya mohon maaf. Ajakan saya adalah, kalau harus emosi dan mengekspresikan pendapat, nyatakan itu dalam kesantunan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.