Pentingnya pendidikan “tata krama” sejak dini

Pagi ini habis ngajar, karena cuma dapat tugas pagi, terus pulang. Mampir nyoto* sebentar di warung soto dekat rumah. Waktu mau minum es teh di depanku tiba-tiba wuzzzzzz….. sebuah sendok melayang di atas kepalaku. Coba bayangin tuh, sendok! Untuk ndak mampir ke kepalaku, cuma lewat saja.

Sambil clingak-clinguk aku cari siapa ninja yang baru saja ngeluarin jutsu sendok terbang tadi. Ternyata sang ninja adalah anak kecil — mungkin masih usia TK — di depan aku yang lagi marah (kelihatan di wajahnya) ke orang tuanya. Saya menahan hati untuk tidak langsung menghakimi — kalau soal ini mah sudah biasa aku — sementara sang ibu dengan marah dan agak malu melihat ke aku. Ya … aku tersenyum saja. Salah apa si sendok tadi ya, sampai dilempar kayak gitu.

Salah si anak atau salah orang tuanya yang tidak mengajar tata krama ke si anak. Sebelum dijawab, saya teruskan ceritanya. Sambil makan soto — yang jadi cokelat banget, gara-gara kecapnya kebanyakan — aku curi-curi dengan pembicaraan keluarga ini. Si ibu — yang dipanggil bunda sama anaknya — ngandani** si anak dengan pernyataan yang lembut, “nak, ingat ini di mana to?”. Terus tak lama kemudian, sang ayah yang baru selesai makan pindah tempat duduk. Si anak dipangkunya sambil disuapin soto sembari menasihati si anak — yang ini tidak dengar saya — tapi diakhiri dengan pernyataan “sana, bilang maaf sama bunda!”, terus si anak sambil senyum-senyum malu minta maaf sama ibunya.

Saya pikir orangtuanya tidak pernah tidak mengajar tata-krama kepada si anak. Pasti di rumah si anak mendapat pendidikan tata-krama seperti yang ditunjukkan sang ayah di warung tadi. Tapi yang saya mau tunjukkan adalah, anak-anak sekarang mendapat pendidikan lewat cara apapun. Pasti tidak ada yang melatih si anak tadi melempar sendok setiap kali sedang marah. Tapi mungkin, si anak pernah melihat kalau orang marah itu melempar sendok.Anak-anak sekarang mempunyai televisi, pergaulan, dan banyak hal sebagai sarana pendidikan.

Di zaman saya kecil dulu, televisi tidak memberikan pengaruh sebesar sekarang ini. Pendidikan tata-krama sejak dini sangat penting, karena menurut saya anak-anak zaman sekarang menerima pengaruh yang terlalu besar dari lingkungannya. Keluarga, mustinya menjadi benteng moral yang utama dari pengaruh-pengaruh dunia ini.

Ya, saya memang belum punya anak, cuma saya banyak bergaul dengan anak-anak. Di gereja, salah satu pelayanan saya adalah di Sekolah Minggu. Yang belum tahu, Sekolah Minggu itu semacam gereja untuk anak-anak, biasanya dari balita sampai usia smp, meskipun yang sma juga boleh masih ikut. Sekali waktu saya mengajar anak-anak ini tentang kewajiban anak kepada orang tua karena orang tua sudah bekerja keras mengasuh mereka. Tiba-tiba seorang anak usia TK bilang, “ndak Mas, wong papahku senengnya pacaran terus kok!”. Beberapa orang dewasa yang ada di situ saling melihat dengan tersenyum-senyum. Tidak menyalahkan papahnya, ternyata si ayah sudah menduda sekian tahun dan baru dekat dengan seorang wanita.Yang saya mau tekankan adalah, kepolosan anak-anak ini membuat mereka menerima apa saja dengan mudahnya.

Beberapa hari yang lalu saya lihat di National Geographic channel sebuah penelitian terhadap anak-anak. Rupanya anak-anak itu cenderung meniru, bahkan saat mereka tahu bahwa apa yang mereka tiru itu tidak logis dan tidak benar untuk dilakukan.Yah, bagi yang sudah jadi orang tua, ayo tanamkan tata-krama yang baik pada anak-anak kita. Bagi yang belum punya anak — seperti yang nulis ini πŸ™‚ — harap diingat-ingat kalau besok sudah jadi ayah atau ibu. Atau yang punya saudara, ponakan, yang masih kecil, hati-hati dengan ucapan atau tindakan kita, anak-anak kecil ini cenderung meniru. Jangan merusak generasi mendatang ini.

* nyoto : menyantap hidangan soto

** ngandani : (jawa) memberi nasihat

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

2 thoughts on “Pentingnya pendidikan “tata krama” sejak dini

  1. Kuro

    Iyo… nyat tenan kok. Sak iki iku kurang sek jenenge pelaran toto kromo mas. Lha piye to, sak iki wong tuwo yo akehe sibuk dewe-dewe. Dadi sampe lali kewajiban menehi kasih sayang lan point penting sek njenengan sorot iku, babagan unggah-ungguh. Anak-anak luweh akeh oleh masukan soko tipi malah. Sek acarane mayoritas ngerti dewe, luweh akeh nyontoni elek. Sak jane, luweh apik ki rasah ono tipi sisan πŸ˜€ Tapi gak tahu deh, pada bisa ndak nerapinnya. Sumonggo mulai dari kita mawon, jangan sampe lupa memberikan contoh yang baik buat anak-anak kita, atau anak disekitar kita. Kalau bukan kita… siapa lagi _^

    Reply
  2. credendovides4757

    He … he. Nggih, kula setuju.Matur nuwun sampun mampir wonten gubug kula.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.