Menyikapi hasil perundingan Kinabalu

Indonesiamalaysia_ilustrasi_10

Hari Senin, 6 September 2010 kemarin terjadi perundingan antara Indonesia dengan Malaysia di Kinabalu, Sabah, Malaysia. Delegasi Malaysia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Hanifah Aman, sedangkan delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

Membaca koran hari ini, dan juga beberapa berita di internet, ada rasa tidak puas juga. Sepertinya hasil perundingan ini tidak seperti yang diharapkan, bahkan menurut saya tidak sesuai dengan harapan dari pidato Presiden SBY yang kemarin. Apakah ada yang salah? Bagaimana kinerja tim diplomasi Indonesia? STOP! Saya tidak menjadi tim diplomasi itu, dan juga tidak tahu apa yang terjadi selama perundingan. Maka meskipun saya kecewa dan tidak puas, musti berimbang menyikapinya. Saya hanya akan mencermati hasil-hasilnya saja.

Berkaitan dengan insiden Tanjung Berakit yang lalu, Indonesia sudah menyatakan keberatannya. Pihak Malaysia tidak meminta maaf, tetapi memberi jaminan bahwa hal tersebut tidak akan terulang di masa mendatang. Saya rasa ada dua alasan mengapa Malaysia tidak mau meminta maaf. Pertama, Malaysia merasa malu untuk meminta maaf; atau kedua, Malaysia memang tidak punya malu setelah bersalah tetapi tidak mau minta maaf. Berpikir positif! Malaysia malu untuk meminta maaf; maka ya sudah Indonesia memaafkan, meskipun mereka tidak meminta maaf.

Mengenai masalah perbatasan dua negara, saya ingin menyatakan hasilnya adalah nol besar; tetapi saya lebih memilih menuliskannya “belum” ada hasilnya. Dalam pidato Presiden SBY kemarin, Presiden mengharapkan untuk segera menuntaskan masalah perbatasan ini, tetapi sepertinya kita masih harus menunggu bulan Oktober-Desember untuk perundingan berikutnya. Seorang pakar kelautan bahkan menyatakan masalah batas wilayah ini membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. 🙁

Masalah WNI yang mendapat hukuman mati, sudah ada jaminan tentang pengurangan hukuman. Okey, yang ini patut diacungi jempol. SIP! 🙂

Mengenai kepastian perlindungan hukum terhadap TKI, belum ada perbincangan mengenai hal ini. Hanya ada satu hasil yang positif, yaitu diperhatikannya pendidikan anak-anak TKI di Malaysia. Yang ini juga perlu dipuji.

Beberapa hal yang masih perlu diselesaikan, rasa-rasanya menjadi PR bagi pemerintah kita. Jika kita tidak mau Indonesia dipermalukan dan diinjak-injak, ya harapan rakyat ini ada di tangan para diplomat kita. I love Indonesia!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.