Akun anonim kontra gereja

      4 Comments on Akun anonim kontra gereja

Ada yang menyebut mereka ini sebagai anti-gereja dan anti-kekristenan. Tapi saya lebih suka menyebut mereka sebagai “kontra-gereja“. Saya tidak suka menyebut mereka sebagai anti-gereja atau anti-kekristenan, karena saya rasa sebenarnya mereka tidak anti terhadap gereja ataupun kekristenan. Yang saya tahu, di balik keanonimannya, mereka bersikap kristis terhadap gereja dan kekristenan. Kadang dengan sindiran, kadang dengan humor, kadang juga dengan pernyataan yang keras.

Saya mencatat beberapa akun anomin kontra gereja ini yang rutin “berkicau” di jagad Twitterland, di antaranya: @Gereja_Palsu, @HumorGereja, @KristenYEAHHH, dan dulu juga ada @Pura2_Pendeta yang sayangnya tweet terakhirnya adalah Agustus tahun lalu. Banyak yang menduga bahwa orang-orang di belakang akun ini adalah mereka yang sakit hati dengan gereja, atau mereka yang tidak suka kepada gereja dan kekristenan. Bukan hak saya untuk menghakimi siapa mereka dan apa motivasi mereka. Yang jelas bagi saya, mereka ini sedang mengkritisi gereja dan kekristenan. Saya bukannya follower dari akun-akun ini, cuma kadang membaca linimasa mereka.

Tidak bisa dipungkiri kalau tweets mereka bisa memerahkan telinga, bahkan banyak yang menanggapi kicauan mereka dengan amarah. Baca saja bio dari @Pura2_Pendeta

Syalooommm semuanya! Bagaimana usahamu hari ini? Bagaimana kekayaanmu hari ini? Bertambah banyak? Pasti itu karena doa saya! Jangan lupa PK saya ya.

Atau bagaimana saat @Gereja_Palsu memerahkan telinga para pelayanan mimbar dengan kalimat ini,

Baca juga kicauan @HumorGereja yang membuat kita tersenyum-senyum tentang “nerakanya” menjadi operator LCD.

Selain kritik mereka yang segar, kadang mereka juga mempertanyakan doktrin-doktrin tertentu, contohnya pernyataan dari @kristenYEAHHH ini

Bagaimana seharusnya gereja menanggapi akun-akun seperti ini? Sayangnya banyak yang menganggapnya sebagai musuh dari kekristenan. Saya tidak begitu peduli dengan siapa di belakang akun-akun ini atau apapun motivasi mereka. Saya rasa adalah baik jikalau gereja mau membuka tangan dan membuka paradigma kepada akun-akun ini, dan menganggap mereka sebagai seorang kawan. Sahabat yang dengan senang hati mengkritik apapun kepada kita tanpa dibatasi rasa sungkan.

Saya bertanya, jikalau Anda adalah hamba Tuhan, gembala, atau pendeta, berapa banyak orang-orang di sekeliling Anda yang mau dengan tegas mengkritik Anda apa adanya? Kalau ada, berapa banyak yang akan Anda dengarkan? Apakah Anda tetap akan menjaga mereka di sekeliling Anda atau malahan membuang mereka? Akun-akun anonim kontra gereja ini bisa menjadi sabahat untuk membuat gereja instropeksi diri, menjadikan gereja lebih “membumi”. Tetapi sayangnya, gereja dan kekristenan sering menanggapi dengan amarah saat ada yang mencoba meluruskan mereka.

Saya yakin ada banyak jemaat gereja yang mempertanyakan doktrin-doktrin pengajaran tertentu. Tetapi berapa banyak yang akan mau bertanya langsung tanpa merasa disalahkan atau dianggap sesat. Saat akun-akun anonim ini mempertanyakan pengajaran suatu gereja, semestinya gereja bisa menjawab dengan santun, bukannya malahan mengatakan, “Mereka itu sesat! Jangan di-follow!“. Kecuali memang gereja tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mereka lho ya.

Ada yang sempat bertanya kepada saya, mengapa akun-akun anonim ini tidak buat gereja sendiri. Saya jawab, sangat bisa kalau mereka mau. Akun @KristenYEAHHH punya 300-an followers, @Gereja_Palsu ada 2400 followers, @HumorGereja punya hampir 43000 followers, mereka sudah bisa mendirikan megachurch. Tetapi begini, saya yakin mereka pernah berjuang di dalam institusi sebuah gereja, bahkan mungkin masih berada di dalamnya, tetapi pasti sikap kritis mereka ini terbatasi saat ada di dalam institusi gereja, makanya inilah pilihan mereka.

Apakah ini berarti saya membela dan membenarkan akun-akun anonim kontra gereja ini? Saya lebih suka mengatakan kalau saya bersyukur mereka ada, bukan untuk mencobai gereja, tetapi supaya saya, Anda, gereja, dan kekristenan juga siap membuka diri, membenarkan diri, mengubah paradigma, bahkan bertobat jika selama ini yang kita lakukan adalah salah.

Jangan pernah tersinggung dengan kicauan mereka di Twitterland, jadikan sarana instropeksi saja, apakah sekarang ini memang demikian kekristenan dan gereja di mata dunia?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

4 thoughts on “Akun anonim kontra gereja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.