Superioritas gereja?

      1 Comment on Superioritas gereja?

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah seorang ibu. Ibu ini sudah cukup sepuh dan tinggal bersama anak dan cucu-cucunya. Cerita punya cerita rupanya ibu ini baru saja memutuskan pindah gereja, kembali ke gereja masa kecilnya, yaitu G**. Selama ini, ibu ini beribadah di G***, dan karena gereja ini berpindah tempat agak jauh, maka ibu ini memutuskan kembali ke gereja awalnya, dengan alasan sederhana tempat yang jauh dan kondisi fisik yang tidak lagi mendukung.

Waktu mendengar keputusan ibu ini, salah seorang sahabatnya yang sebenarnya bukan berasal dari gereja yang sama mengatakan hal yang mengejutkan ibu ini dan keluarganya. Sahabatnya ini mengatakan, “kalau masuk ke gereja itu, sama artinya dengan mati!”. Waktu menceritakan hal ini, ibu tadi sambil menangis karena begitu kagetnya dengan reaksi si sahabat.

Meskipun demikian, saya yang mendengarnya menanggapinya dengan tertawa. Meskipun saya tidak setuju dengan pernyataan “MATI!” tadi, saya bisa memahami mengapa pernyataan ini muncul. Anggapan semacam ini hampir ada di setiap diri orang Kristen. Menyatakan bahwa gerejanya yang paling baik, sementara gereja lainnya tidak. Merasa bahwa gerejanya lebih hidup, sementara gereja lain mati dan dingin. Merasa bahwa gerejanya lebih superior dibandingkan gereja yang lain.

Kalau ada yang bertanya, apa kriteria gereja yang hidup dan yang mati, ya … jangan tanya saya, saya tidak punya jawabannya. Bertanyalah kepada mereka yang merasa bahwa hidup matinya orang Kristen itu ditentukan oleh di mana mereka bergereja. Yang saya tahu adalah Tuhan Yesus pernah mengatakan hal ini, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kebenaran itulah yang memberikan saya kehidupan.

Saya beruntung berada dalam satu komunitas bersama dengan teman-teman yang berbeda-beda latar belakang gereja, tetapi punya satu kesamaan, yaitu belajar menemukan kebenaran yang benar-benar benar. Kadang memang kami tidak nyaman dengan gereja di mana kami berada, tetapi kami tahu pasti bukan gereja yang menentukan hidup matinya kami. Kebenaran firman-Nyalah yang memberi kami hidup, Saya bersyukur, kami tidak pernah sungkan untuk berbeda pendapat, selama kami akhirnya menemukan kebenaran ilahi yang sejati dalam Firman-Nya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Superioritas gereja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.