Berbuah: dalam pertobatan

      No Comments on Berbuah: dalam pertobatan

“Bapa Abraham mempunyai banyak sekali anak-anak, aku anaknya dan kau juga, mari puji Tuhan!”. Pernahkah dengan lagu sekolah minggu ini dinyanyikan? Berapa banyak kita yang ikut mengajarkan lagu ini tetapi melupakan mengajarkan bagaimana menjadi seorang anak Abraham itu.

Pesan hari ini datang dari Yohanes Pembaptis, seorang yang disebut Alkitab sebagai “a man sent from God” (John 1:6); yah … seorang yang diutus Allah membawa pesan tentang buah pertobatan kepada kita.

Mari kita baca pesannya dalam Matius 3:1-12

(1) Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: (2) “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (3) Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.” (4) Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. (5) Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. (6) Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. (7) Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? (8) Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. (9) Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! (10) Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (11) Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. (12) Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”

Dalam ayat 10-12, Yohanes mengingatkan kita bahwa standar bagi penampian yang dilakukan Tuhan Yesus adalah buah yang dihasilkan dalam pertobatan, bukan yang lain. Bagi yang tidak menghasilkan buah pertobatan, ujung-ujungnya adalah dibuang dan dibakar dalam api yang tidak terpadamkan.

Ketika mencerca orang Farisi dan Saduki, Yohanes menunjuk kepada pengakuan mereka sebagai anak-anak Abraham. Menjadi anak Abraham dalam anggapan orang Yahudi adalah hak istimewa yang mereka terima secara otomatis saat dilahirkan. Yohanes Pembaptis menentang hal ini dan membongkar paradigma ini, dia menyatakan bahwa Allah bisa menjadikan batu-bati sebagai anak Abraham.

Seorang anak pasti memiliki — paling tidak — kemiripan dengan ayahnya. Bagaimana kita bisa mengakui diri kita sebagai anak Abraham tanpa memiliki iman dan pertobatan seperti Abraham. Iman Abraham itu bukan sekedar iman pengakuan, melainkan iman dalam ketaatan dan ketundukan terhadap kehendak Allah.

Kalau kita mengaku Kristen (pengikut Kristus) tanpa meneladani kehidupan Kristus Yesus, maka kekristenan kita hanyalah omong kosong. Orang Kristen yang masih senang hidup dalam nafsu daging dan dunia bukanlah anak Abraham, mereka itu keturunan ular beludak.

Kekristenan tanpa pertobatan akan menerima murka Allah dalam api yang tidak terpadamkan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.