Saat kenyataan berlawanan dengan janji Tuhan

Tuhan menjanjikan umat Israel negeri yang berlimpah dengan susu dan madu. Namun pada mulanya Dia menuntun mereka ke tempat yang bahkan sama sekali tidak ada airnya! Ini membingungkan Israel sebagaimana terus membingungkan banyak orang yang mengikut Tuhan hari ini. Walaupun demikian, pengalaman ini menyoroti salah satu dasar dari perjalanan kita dengan Tuhan: “Antara tempat kita menerima janji Allah dan Tanah yang Dijanjikan (penggenapan janji itu), biasanya akan ada padang gurun yang justru berlawanan dengan hal yang telah dijanjikan kepada kita”. Asas ini dapat diterapkan pada setiap janji Allah, apa pun kaitannya: karunia-karunia, pelayanan, keselamatan dari orang yang kita kasihi, atau bahkan hal-hal yang bersifat sementara. Supaya janji itu digenapi, akan ada tempat tandus yang menuntut iman antara tempat kita menerima janji dan pencapaian janji itu.

Abraham telah dijanjikan seorang anak laki-laki. Dia sudah terlalu tua ketika dia dipanggil, namun sebelum anak yang dijanjikan itu lahir, dia harus menanti sepanjang tahun-tahun kemandulan sampai kehamilan tiba. Janji-janji Allah menuntut adanya iman dan kesabaran di pihak kita.

Keturunan Abraham dijanjikan warisan di Kanaan yang berlimpah dengan susu dan madu, tetapi mereka harus melewatkan waktu 400 tahun di Mesir sebagai budak sebelum menerimanya. Pada waktu mereka menerimanya, tiada keraguan bahwa Allah menjadi Pemelihara mereka.

Yusuf telah diberi mimpi bahwa bahkan matahari, bulan, dan bintang-bintang akan sujud di hadapan-Nya, tetapi pertama-tama dia harus menjadi seorang budak! Walaupun telah menjadi pangeran, Musa melewatkan waktu 40 tahun di padang gurun sebagai gembala, pekerjaan yang paling rendah pada masa hidupnya, sebelum dia siap untuk memimpin umat Allah.Setelah Daud diurapi menjadi raja, dia melewatkan waktu bertahun-tahun untuk melarikan diri. Gereja dijanjikan akan memerintah bersama Kristus atas bumi ini, tetapi sudah lebih dari 2000 tahun diperintah oleh dunia yang pada suatu hari kelak akan diperintahnya.

Tujuan dari proses ini dapat diringkaskan dengan sepatah kata: persiapan. Pengalaman Israel di padang gurun adalah waktu persiapan  untuk pembentukan dan pendewasaan iman mereka. Bahkan lebih penting lagi di padang gurun Israel membina tempat kediaman untuk Allah supaya Dia boleh tinggal di antara mereka. Proses alkitabiah ini masih tetap sama untuk kita hari ini. Dalam pengalaman padang gurun kita, kita juga belajar untuk membuat tempat kediaman bagi Allah dalam hidup kita sendiri.

Setelah pertobatannya yang dramatis, rasul Paulus pergi ke padang gurun selama beberapa tahun. Dia kemudian menulis kepada jemaat di Galatia bahwa ketika itu Bapa telah menyatakan Anak-Nya di dalam dirinya (bukan hanya kepadanya) bahwa dia siap untuk memberitakan Injil (Galatia 1:11-17). Di padang gurunlah kita datang untuk tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita. Seperti israel, kita dapat memasuki gerbang menuju ke Tanah yang Dijanjikan dengan semua harta kekayaan Mesir, tetapi kita harus berlajar bergantung kepada Tuhan bahkan untuk secawan air minum. Di padang gurunlah Dia menjadi Tuhan kita dan kita menjadi imam-Nya. Di sanalah kita menjadi akrab dengan Dia dan mempelajari jalan-jalan-Nya. Di sana penampilan palsu dari tabiat kita yang lama dilucuti, dan kita mengetahui betapa mendesaknya kebutuhan kita akan perubahan yang sedang dikerjakan-Nya di dalam diri kita.

Padang gurun akan mengandung kesulitan-kesulitan kita yang terbesar, tetapi juga sebagian dari pengalaman kita yang paling cemerlang. Kita harus merasa dahaga sebelum mencari air dari Gunung Batu itu. Kita harus merasa lapar sebelum kita menikmati Manna dari surga.

Setiap pencobaan besar di padang gurun diikuti oleh pewahyuan yang ajaib tentang sang Raja dan keselamatan-Nya. Padang gurun bukanlah suatu kutuk; justru itu adalah berkat. Di sanalah cengkeraman dunia pada hati dan pikiran kita dilepaskan dan kita ditawan oleh Tuhan dan rencana-Nya yang kekal. Di sanalah sifat kedagingan dipatahkan dan Tuhan mulai memerintah dalam hidup kita.


Perjalanan Dimulai” karya Rick Joyner halaman 41-41

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.