You can NEVER change what you TOLERATE!

Seringkali saya terganggu dengan masalah “jam karet”. Tetapi seringkali juga saya mengatakan hal itu sebagai biasa di budaya bangsa ini. Maka benar pernyataan di atas, “you can never change what you tolerate!”. Selama saya masih bertoleransi dengan “jam karet”, maka jangan harap saya bisa mengubah budaya jam karet ini.

Masalah yang lebih berat lagi, ternyata tanpa sadar saya pun terbawa kepada budaya jam karet ini. Contohnya, meskipun saya tidak suka kalau ada yang terlambat datang ke gereja, tetapi saya juga seringkali datang ke gereja dengan terlambat. Ini jelas tidak benar!

Jika saya masih bisa mentolerir suatu hal, maka saya tidak akan bisa mengubah hal tersebut. Termasuk mentolerir kesalahan yang saya lakukan sendiri.

Contoh lainnya! Di gereja kami ada satu prinsip yang baik yang tidak pernah terlaksana dengan baik. Prinsipnya adalah semua pelayan mimbar yang tidak ikut latihan persiapan dan tidak ikut dalam ibadah doa tidak boleh melayani. Apakah ini bisa dilaksanakan? Sama sekali tidak. Mengapa? Terlalu banyak toleransi diberikan kepada pelayan yang beralasan tidak ikut latihan dan tidak ikut doa. Akibatnya ya … tidak ada perubahan yang sejati.

Sebagai worship leader, kadang kala ingin hati untuk tegas dengan aturan ini, tetapi di sisi lain, aturan ini menjadi dilonggarkan. Ada seorang teman pemusik dulu di gereja kami (sayang sekarang dia sudah berpindah gereja), yang benar-benar tidak mau melayani kalau dia tidak ikut latihan. Ada juga seorang singer kami yang juga punya prinsip demikian. Tetapi prinsip pribadi yang seperti ini, mau tidak mau akan tergerus kalau sistem di sekelilingnya tidak lagi mendukung. Toleransi harus dikembangkan dalam sisi positif, tetapi jika toleransi itu diarahkan kepada sesuatu yang tidak sehat, maka hasilnya pun akan buruk.

Pelajaran yang saya dapat adalah jika ingin mengubah suatu keadaan, maka harus berani bersikap tegas untuk mentoleransi. Selama saya masih mentoleransi sebuah keadaan, bisa dipastikan saya tidak akan bisa mengubahnya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.