Dua hari Prisha belajar di Kampus Panti Waluyo

Kalau bundanya Prisha menyebutnya piknik di hotel Panti Waluyo. Saya lebih memillih menyebutnya sebagai belajar di Kampus Panti Waluyo. Iya, benar Panti Waluyo itu nama rumah sakit. Lha kok jadi kampus? πŸ™‚

Ceritanya 14 November kemarin Prisha sempat muntah-muntah. Pagi harinya seperti biasa, disuapi bundanya, kemudian minum susu. Dan kami tinggal berangkat kerja. Sekitar jam 11-an, tantenya yang biasa menemani Prisha memberi kabar kalau Prisha sudah muntah tiga kali. Makan pagi dan dua kali minum susu dimuntahkan semua. Saya langsung jemput istri pulang dari kantor.

Sampai di rumah, Prisha sedang tidur. Saya cek suhunya dengan termometer, ternyata normal. Lalu bundanya memberi ASI dan kembali tertidur, tidak lama terbangun dan kembali muntah. Saya tinggal sebentar untuk mendaftar periksa ke dokter. Sampai di rumah, Prisha sudah muntah untuk kelima kalinya. Akhirnya diputuskan dibawa ke IGD rumah sakit Panti Waluyo. Kebetulan ada beberapa teman pelayanan yang bekerja di sana.

Begitu sampai di IGD, kawan yang bekerja jadi perawat di sana sudah menunggu. Prisha dicek oleh dokter jaga, dan tidak ditemukan gangguan awal apapun. Karena kelihatan lemas, Prisha diberi minum ASI bundanya, dan tidak muntah. Langsung mengajak perawat dan dokter di IGD bercanda, berteriak, ngoceh di IGD. Karena sudah lima kali muntah, teman perawat tadi menyarankan di-opname saja, supaya bisa diobservasi. Kami langsung setuju.

Setelah dipasang infus dan diambil darah untuk tes laboratorium, Prisha dibawa ke kamar. Ya cuma digendong bundanya, lha wong masih bercanda dan polah seperti biasanya. Pun saat masuk kamar, ditidurkan, Prisha ceria, bercanda, tengkurap di tempat tidur, seperti tidak merasakan infus yang dipasang di kakinya. Bahkan, infus yang dipasang di kakinya juga dibuat mainan. Makan lahap, minum seperti biasanya, dan tidak muntah. Kami memutuskan tidak perlu mengabari banyak orang, lha wong Prisha sehat-sehat saja.

Malam harinya perawat datang memberi kabar kalau hasil tes darah sudah ada dan sudah dikonsultasikan ke dr. Nur Agus Guna Wijata, Sp.A. Leukosit Prisha ada di angka 13.000, dan saya cukup tahu bahwa angka segitu masih dalam batas normal untuk anak seusia Prisha, meski demikian Neutrofilnya ada sedikit di atas batas normal. Intinya dokter memerintahkan diberikan antibiotik lewat infus. Malam itu, Prisha ya seperti biasanya, tidur juga nyenyak seperti biasa. Kami pun ikut nyenyak πŸ™‚

Mengapa saya menyebutnya pengalaman Prisha belajar di Kampus Panti Waluyo. Pertama, kami bisa mengajarkan kepada Prisha tentang – tentu saja – mengucap syukur dalam segala perkara, terlebih ini pelajaran untuk bapak dan bundanya Prisha. Kedua, semua proses bisa menjadi pembelajaran. Maka, saya tidak menyia-nyiakan dua hari itu. Selama dua hari itu saya mengajari Prisha apa itu syringe, menunjukkan yang namanya infus set dan infus pump. Lalu mengajari mengapa sampai dua tangannya ditusuk jarum, dan akhirnya infus dipasang di kaki, tentang vena dan arteri. Tentang leukosit dan kandungan darah lainnya. Pas dokter datang dan Prisha memegang stetoskop, saya menjelaskan apa fungsinya.

Memang Prisha paham? Mungkin tidak. Tetapi saya tidak mau menyia-nyiakan waktu tanpa melakukan sesuatu yang berguna. Sebagai orang tua, adalah tugas saya sedari dini menunjukkan seberapa luas dunia ilmu kepada Prisha. Kalau suatu waktu kelak dia memutuskan menggali dan menyelami salah satu ilmu itu lebih dalam, itu adalah pilihannya. Kalau besok dia mau jadi perawat atau dokter, ya boleh saja toh, cuma saya juga bilang biaya pendidikannya agak mahal πŸ™‚

Esok paginya, dokter berkunjung dan mengatakan kalau kondisi Prisha stabil dan baik, tidak ada dehidrasi maupun gangguan lain. Cuma, memang harus dicari tahu penyebab muntahnya, supaya tepat penanganan dan obat yang akan diberikan. Untuk itu diperlukan tes urine. Sepanjang hari itu, Prisha juga seperti biasanya, bahkan makan pun lebih banyak daripada saat di rumah.

Keesokan harinya, saat berkunjung dokter membawa hasil tes urine, dan semuanya negatif. Ya, Prisha langsung diizinkan pulang. Jadi, itu dua hari Prisha belajar di Kampus Panti Waluyo.

Prisha belajar di Kampus Panti Waluyo

Prisha belajar di Kampus Panti Waluyo

Eh, tunggu dulu, jadi sebenarnya Prisha sakit apa? Sabar ya, saya tidak akan menuliskannya di sini, karena ini akan menjadi tugas anak didik saya. Biar mereka membuat esai kemungkinan penyakit Prisha dan penyebabnya berdasarkan apa yang sudah saya tuliskan di atas. Anak didik saya, kalian jangan protes, ingat sudah saya sebutkan semua proses bisa menjadi pembelajaran β€˜kan?

Nah, kalau mereka sudah mengumpulkan tugasnya, akan saya perbarui tulisan ini dengan diagnosa terakhir dari dokter.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.