Yang mendesak dan yang penting

Sebuah pertanyaan yang hampir kita semua pernah alami. Jika dalam satu waktu muncul hal yang mendesak dan hal yang penting, yang mana yang harus dikerjakan lebih dulu? Tentu saja saya juga pernah mengalami hal ini. Menurut saya jawaban dari pertanyaan ini bisa berbeda satu dengan lain orang. Dari yang pernah saya alami, seringkali dua keadaan yang berbeda bisa memberikan jawaban yang berbeda atas pertanyaan tersebut.

Bagi saya yang lebih penting daripada jawaban atas pertanyaan tersebut adalah mengapa pertanyaan tersebut bisa muncul. Menurut pengalaman saya – sekali lagi ini pengalaman saya – yang mendesak itu muncul karena saya menunda mengerjakan yang penting. Ketika saya menunda mengerjakan yang penting dan memilih memprioritaskan yang lain, maka saya bisa memastikan di suatu waktu, yang semula penting ini akan berubah menjadi yang mendesak dan bertumbukan dengan hal yang penting di suatu waktu itu.

Maka, untuk menghindari terjebak dalam kondisi yang harus memilih antara yang penting dan yang mendesak, jangan pernah menunda mengerjakan sesuatu. Jika saya menganggap sesuatu itu penting, maka saya akan memprioritaskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyelesaikan itu.

Nah, pertanyaannya tentu saja berubah menjadi mana yang penting dan mana yang kurang begitu penting. Sekali lagi, tentu saja prioritas hidup masing-masing kita berbeda. Bagi saya, hal-hal yang Anda anggap kecil bisa jadi sesuatu yang penting. Bahkan seringkali apa yang istri saya anggap hal yang remeh, adalah hal yang penting bagi saya.

Bagi saya mencuci peralatan makan dan perlengkapan masak segera setelah selesai digunakan adalah hal yang penting. Di rumah, saya menempatkan satu keranjang sampah di dalam kamar, dan satu keranjang sampah di luar rumah. Bagi saya, penting untuk tahu mana sampah yang masuk di keranjang sampah dalam kamar dan mana sampah yang harus dimasukkan di keranjang sampah luar rumah. Adalah penting bagi saya meletakkan kunci kendaraan di tempat yang selalu sama. Kalau saya mengambil gunting dari dalam laci, adalah penting untuk mengembalikkannya di laci yang sama.

Nah, beda ‘kan pemikiran kita. Bagi saya, orang yang tidak setia dalam perkara kecil, tidak akan mampu mengerjakan perkara-perkara yang besar. Jadi, jika saya kembali berada dalam posisi harus memilih antara yang penting dan yang mendesak, itu karena kesalahan saya dalam memprioritaskan hal-hal yang tidak tepat.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.