Tuhan hendak membunuh aku

      No Comments on Tuhan hendak membunuh aku

Jangan protes dulu dengan judul di atas. Bukan saya yang mengucapkannya, ada orang yang telah mengucapkannya ribuan tahun silam. Beberapa hari yang lalu saya membaca ayat ini,

God may kill me, but still I will trust him and offer my defense.[1]

Itu dikutip dari Alkitab terjemahan Contemporary English Version. Alkitab pertama yang saya bisa beli dengan uang sendiri, sebelum ada banyak aplikasi Alkitab seperti sekarang ini. Kalau dalam Alkitab berbahasa Indonesia tertulis demikian.

Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya.[2]

Saya tidak tahu apakah ayat ini berarti bagi Anda, tetapi ini memberi pesan dan kesan yang kuat. Dari Alkitab, kita tahu apa yang terjadi dalam kehidupan Ayub, dan kita tahu apa yang melatarbelakangi kisah itu. Tetapi, pada waktu itu Ayub tidak tahu dan tidak memahami mengapa semuanya itu terjadi, tetapi tetap saja itu tidak menggoyahkan imannya kepada Tuhan. Mengapa? Bagaimana bisa ada manusia seperti Ayub ini?

Pertama, Ayub mengalami persekutuan yang dalam dengan Tuhan. Jauh sebelum masa kesesakan itu terjadi, Ayub menjalani hari-hari bersekutu dengan Tuhan dengan begitu akrab.[3] Pengalaman Ayub bersama Tuhan membangun pengenalan yang begitu dalam akan Tuhan. Ayub sangat mempercayai Tuhan, bahkan di saat Dia berdiam diri selama 37 pasal. Ayub sangat mengenal siapa Tuhan yang Dia sanjung tinggi itu.

Kebetulan hari-hari ini Renungan Truth (http://truth-media.com/) sedang membahas tentang beriman tanpa melihat. Ayub adalah salah satu teladan untuk hal ini. Bukan sekedar teguh beriman saat tidak melihat Tuhan, bahkan iman yang kokoh ketika keadaaan berbanding terbalik dengan apa yang kita imani. Di sinilah yang membedakan orang Kristen yang dewasa dengan yang kanak-kanak.

ginosko

ginosko

Kedua, karena pengenalannya akan Tuhan, Ayub tahu benar bahwa Tuhan juga mengenal dirinya. Lihat di pasal awal kitab Ayub, bagaimana TUHAN membanggakan Ayub adalah petunjuk bahwa dia dikenal oleh Tuhan. Ayub tidak merasa susah untuk bertindak otentik – apa adanya – di hadapan Tuhan, dan tahu bahwa apa yang akan dikatakannya tidak akan membuat Allah marah kepadanya. Maka, Ayub begitu terbuka dan bebas berkata “…. aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya.” Alkitab New International Reader’s Version menerjemahkan kalimat ini sebagai “…. I’ll argue my case in front of him”. Jika itu adalah saya, seberapa besar percaya diri saya untuk berargumentasi dengan Tuhan Yang Mahakudus dalam membela kelakuan saya?

Level dikenal oleh TUHAN Allah ini jelas bukan sembarangan. Perjanjian Baru menggunakan kata ginosko. Ginosko adalah idiom Yahudi untuk menggambarkan hubungan seksual antara suami dengan istri. Seakrab itulah hubungan Ayub dengan Tuhan. Dalam bahasa sederhana, TUHAN Allah menikmati kehidupan Ayub. Pertanyaan, apakah demikian juga Tuhan bisa menikmati kita?

Ketiga, karena pengenalannya akan Tuhan, Ayub tahu benar standar kebenaran Tuhan, dan Ayub tahu benar bahwa dia menghidupi kebenaran Tuhan. Maka tanpa beban Ayub bisa berkata, “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”[4] Saya tidak mengatakan bahwa Ayub kudus dan tidak punya dosa, tetapi dia punya persekutuan yang begitu terbuka dengan Tuhan, tidak ada satupun yang ditutupinya dari Tuhan.

Saya rasa kita layak meneladani iman dari Ayub ini, juga persekutuan dan pengenalannya akan Tuhan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Job 13:15 – CEV
  2. [2]Ayub 13:15
  3. [3]Ayub 29:4
  4. [4]Ayub 23:10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.