Etika Penginjilan dan Perintisan Gereja Oleh Rasul Paulus

reading-bible-blueAda sebuah kalimat dalam surat kiriman rasul Paulus yang menunjukkan bagaimana dia menjunjung etika dalam sebuah pemberitaan Injil.

Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya.” [1]

Maka saya membuat tulisan ini dengan judul Etika Penginjilan dan Perintisan Gereja Oleh Rasul Paulus. Kita tahu bahwa panggilan Paulus adalah sebagai pemberita Injil, rasul, dan pengajar[2], sehingga saya rasa hal penginjilan dan perintisan gereja bukanlah sesuatu yang asing bagi Paulus.

Pernyataan Paulus yang menarik hati saya adalah di kalimat, “… supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain …”. Inilah etika yang dipegang teguh oleh Paulus dalam pemberitaan Injilnya. Mengapa?

Pertama, Paulus menyadari dan menyaksikan sendiri bagaimana jemaat bisa mengelompokkan diri mereka. Kita bisa membaca bagaimana jemaat perdana menyebut dirinya sebagai kelompok Paulus, kelompok Apolos, kelompok Kefas, bahkan kelompok Kristus[3]. Apa bedanya dengan gereja masa kini, berapa banyak orang Kristen yang bangga dengan gereja dan denominasinya, bagaimana sekarang orang Kristen mengidentifikasi dirinya dengan gembala/pendetanya dan gerejanya. Seberapa sering kita mendengar pernyataan, “Saya jemaatnya pendeta X!” atau “O’ Anda jemaatnya pendeta Y itu ya?”

Kepada orang-orang Kristen semacam ini berulang kali Paulus menegaskan makna Gereja – dengan G besar – dan makna menjadi satu keluarga Allah, satu tubuh Kristus. Kepada para rasul dan pemberita Injil serta para pengajar waktu itu, Paulus dengan keras menegur bahwa apa yang mereka kerjakan adalah untuk kemuliaan Allah. Bahwa buah dari pelayanan mereka adalah milik Kristus. Hal yang sama diingatkan Alkitab kepada para pendeta, gembala, penginjil masa kini, bahwa jemaat itu bukan milik mereka, bukan domba mereka, apalagi aset mereka.

Kedua, sepertinya Paulus sedang jauh melihat ke masa depan. Entah apakah hal ini terjadi pada masa Paulus atau tidak, tetapi yang jelas terjadi di masa ini. Hal yang tidak terbantahkan dilakukan oleh gereja masa kini adalah melakukan pemberitaan Injil di tempat-tempat di mana nama Kristus sudah dikenal orang. Maka yang terjadi adalah pemindahan jiwa dari satu gereja ke gereja lain, bukannya memenangkan jiwa. Memindahkan ikan dari satu kapal ke kapal yang lain, bukannya menjaring jiwa-jiwa.

Sepertinya Paulus sudah melihat akan munculnya tuduhan dan fenomena “pencurian domba”. Maka ketika Paulus menuliskan ayat di atas, sebenarnya Paulus sedang meletakkan dasar etika dalam penginjilan dan perintisan gereja supaya Gereja bisa mencegah dan menangkal tuduhan-tuduhan semacam itu.

Bukankah banyak orang Kristen masih terjebak dengan pengajaran palsu dan sesat? Bukankah selayaknya kita memberitakan Injil yang benar kepada mereka? Saya bangga memiliki sahabat-sahabat yang begitu bersemangat mengabarkan kebenaran, meluruskan yang melenceng, tanpa mengajak orang untuk berpindah ke gereja mereka. Mereka dan saya, belajar memberitakan Injil dalam etika Alkitabiah, bahwa yang kami lakukan hanyalah sebatas supaya mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya[4].

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Roma 15:20-21
  2. [2]1 Timotius 2:7; 2 Timotius 1:11
  3. [3]1 Korintus 1:12
  4. [4]Roma 15:21b

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.