Natal: sukacita bagi yang terhilang (3)

kandang domba[en]Or what woman having ten drachmas, if she loses one drachma, does she not light a lamp and sweep the house, and seek carefully until she finds it? And when she has found it, she calls her friends and her neighbors together, saying, Rejoice with me, for I have found the drachma which I had lost. Likewise I say to you, there is joy before the angels of God over one sinner who repents.[1]

A woman and her lost drachma, her piece of silver. As a picture there may be differing opinions as to its intention. One view is that this woman had lost a piece of current coin in the house. She had ten, and had lost one. The story would lose nothing if that were its meaning. I think however that there is something deeper in it. The women of that time often wore upon their brow a frontlet that was called semedi. It was made up of coins, in themselves perhaps largely valueless. But it was a coin that had stamped upon it the image of authority.

Again here scholars differ as to the significance of the frontlet. Some hold that it was a frontlet that revealed betrothal; and again others, that it revealed the marriage relationship. Whether it was of little monetary value or not, it was of priceless value to the woman who wore it. That is evidenced by the fact that she sought it diligently, sweeping the house, until she found it.

Mark it well, lost at home, but lost. There are multitudes in our Churches today who are lost at home through the carelessness of others.I cannot imagine a woman sweeping a long time to find a shilling! But I can imagine her searching diligently to find something which, to her, was a thing of beauty, and adornment, and suggestiveness. However, that is the picture. One coin out of ten, gone. The woman had lost that which perfected the symbolism of her frontlet

It was not to blame at all for being lost. There was something lost through the carelessness of others. Mark it well, lost at home, but lost. There are multitudes in our Churches today who are lost at home through the carelessness of others. They are still somewhere about, but they have no purchasing power, and they are making no contribution that is worthwhile to the great cause. They are lost through the carelessness of others.

Once again, the emphasis lies in agony upon the heart of the one who has lost. The woman is suffering because the silver is lost.

I was His one lost drachma, but this Christmas I celebrate that this lost drachma was found.[/en]

[id]”Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”[2]

Seorang perempuan dan dirhamnya yang hilang. Jika ini hanya soal satu dirham yang hilang di dalam rumah, maka akan lain ceritanya. Maka saya rasa ada hal yang lebih dalam yang patut kita renungkan. Perempuan di masa itu memakai semacam perhiasan di dahinya yang disebut semedi. Semedi ini terbuat dari untaian rangkaian koin yang mungkin harganya tidak seberapa. Tetapi nilai dari semedi inilah yang besar.

Ada perbedaan pendapat di antara para penafir. Ada yang mengatakan kalau semedi ini adalah sebuah tanda ikatan pertunangan, ada juga yang mengatakan sebagai tanda ikatan dalam pernikahan. Apapun maknanya, dan seberapa rendah harganya, semedi ini mempunyai nilai yang begitu berharga bagi perempuan yang memakainya. Hal ini didukung dengan fakta bagaimana perempuan itu sampai menyalakan pelita, menyapu rumahnya, dan mencari dengan cermat.

Berapa banyak orang Kristen di dalam gereja-gereja kita yang terhilang karena kecerobohan saudara-saudara seimannya. Mereka ada di dalam gereja, tetapi terhilang.Saya tidak bisa membayangkan kalau ada perempuan di masa kini menyapu seluruh rumahnya untuk mencari satu logam seratus rupiah yang jatuh. Tetapi saya bisa memahami kalau yang dia cari dengan begitu cermat itu adalah apa yang begitu berharga, sebuah lambang otoritas, keindahan, dan pemujaan. Itulah gambarannya, seorang perempuan yang kehilangan satu koin yang menyempurnakan perhiasannya, tanpa satu koin itu, semedi yang dipakainya tidak sempurna.

Kadangkala sesuatu hilang bukan karena benda itu ingin hilang, tetapi karena kecerobohan. Perhatikan dirham itu, hilang di dalam rumah, di dalam rumah tetapi hilang. Berapa banyak orang Kristen di dalam gereja-gereja kita yang terhilang karena kecerobohan saudara-saudara seimannya. Mereka ada di dalam gereja, tetapi terhilang.

Sekali lagi, penderitaan dialami oleh perempuan yang kehilangan dirham itu. Saya adalah satu dirham Kristus yang hilang itu. Natal ini saya bersukacita, karena Dia menyalakan pelita, menyapu, dan mencari dengan teliti untuk menemukan satu dirham yang hilang ini.[/id]

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Luke 15:8-10
  2. [2]Lukas 15:8-10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.