Doa itu mengenal Allah lebih dalam

Sudah seminggu ini saya ingin menuliskan tentang doa Yabes. Mengapa doa dari Yabes ini kelihatan begitu “duniawi”, sepertinya sangat bertolak belakang dengan doa Bapa Kami. Tetapi kalau dituliskan oleh Alkitab, pastinya ada maksud dari doa Yabes itu, yang bukan sekedar mengumbar nafsu kedagingan saja. Baru kemarin saya menemukan semacam pencerahan.

Ketika saya merenungkan dan mempelajari tentang doa Yabes yang hanya dua ayat itu[1], pencerahan itu datang dalam bentuk seperti ini: “Doa Yabes itu bukan tentang Yabes”. Selama ini paradigma dan mindset saya, saat menemukan sebuah doa dipanjatkan di Alkitab adalah bagaimana doa itu bisa dikabulkan, dan bagaimana prinsip itu saya terapkan sehingga doa-doa saya juga bisa dikabulkan. Salah total, saya harus bertobat dari kesalahan ini.

Ya, dalam doa kita bisa menaikkan permintaan-permintaan, tetapi saat doa-doa dicatat oleh Alkitab, itu lebih menunjukkan kepada siapa, apa, dan bagaimana karakter-karakter Allah kita. Doa itu adalah mengenal lebih dalam TUHAN kita. Ketika saya mengubah paradigma saya, akhirnya semuanya menjadi jelas, mengapa ada doa-doa yang secara khusus dicatat oleh Alkitab, dan semuanya menunjukkan betapa agung dan mulianya Kristus Yesus.

Tentang doa Yabes, akan saya tunjukkan lain waktu, kali ini saya akan menuliskan tentang dua perumpamaan doa yang sangan sering disalah artikan. Yaitu kisah “Ketokan sahabat di tengah malam”[2] dan kisah “Janda yang menyusahkan”[3].

Yang sering diajarkan dari dua kisah ini adalah berdoa dengan sikap tidak malu[4] dan berdoa dengan tidak jemu-jemu[5]. Masalahnya, jika pengajaran tentang dua kisah ini tidak lengkap, maka akan dipahami bahwa Bapa di sorga disamakan dengan sahabat yang tidak mau diganggu atau seperti seorang hakim yang tidak mau menghormati siapapun. Anggapan ini akan membentuk paradigma kita tentang Tuhan yang harus dikejar-kejar, dipaksa-paksa, sehingga akhirnya Dia menyerah untuk mengabulkan doa kita. Yaitu bahwa Tuhan terpaksa mengabulkan doa karena sudah lelah dan tidak mau lagi diganggu tuntutan-tuntutan kita. Kesalahan paradigma yang sangat fatal.

Sekali lagi saya ingatkan, doa itu tentang mengenal Allah kita lebih dalam. Okelah, kita bisa berdoa denga sikap tidak tahu malu atau dengan tidak jemu-jemu, tetapi mengapa demikian? Bagaimana sebenarnya karakter Allah yang dijelaskan oleh Tuhan Yesus dalam dua kisah itu? Nah, ini lho sebenarnya yang lebih prinsip.

Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”[6]. Dalam setiap doa kita, ingatlah akan hal ini, bahwa Bapa kita yang di sorga adalah Bapa yang baik, yang selalu memberikan yang terbaik.

Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”[7]. Dia Tuhan yang punya ukuran waktu yang tepat, tidak pernah Dia menunda pertolongan-Nya.

Jadi, sebelum kita berpikir untuk berdoa dengan tidak punya rasa malu dan tidak jemu-jemu, pahami dan tanamkan dahulu pengenalan yang benar akan Tuhan kita, Yesus Kristus.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]2 Korintus 4:9-10
  2. [2]Lukas 11:5-13
  3. [3]Lukas 18:1-8
  4. [4]Lukas 11:8
  5. [5]Lukas 18:1
  6. [6]Lukas 11:11-13
  7. [7]Lukas 18:7-8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.