Asumsi dan Stigma

      2 Comments on Asumsi dan Stigma
Stigma

Dua hal ini bisa berdampak positif, tetapi juga bisa menjadi sangat negatif. Di tahun 2011, saya mendapati dua hal ini serangkali berdampak begitu negatif dan cenderung merusak.

Beberapa tahun yang lalu saya mendengar rumor bahwa ada sekelompok orang yang menderita HIV sengaja menularkan virus ini dengan cara menyuntik orang lain di bioskop-bioskop. Beberapa waktu yang lalu saya mendengar bahwa mereka menggunakan tusuk gigi bekas pakai di rumah makan-rumah makan. Rumor yang jelas tidak mempunyai bukti, tetapi kemudian membuat masyarakat memiliki asumsi dan stigma yang salah terhadap ODA.

Asumsi dan stigma semacam inilah yang kemudian menempatkan ODA menjadi sama dengan kelas “sampah masyarakat”. Tidak peduli rakyat bahkan hingga menteri, dengan seenaknya mempertegas asumsi dan stigma yang tidak karu-karuan ini. Saya memang tidak pernah punya sahabat ODA, tetapi saya tidak habis pikir bagaimana manusia bisa dengan seenaknya berkomentar terhadap orang-orang yang menderita karena suatu penyakit.

Perlakuan yang diterima kawan-kawan komunitas Punk di Aceh juga terjadi karena stigma dan asumsi semacam ini. Kalaupun mereka terlibat dengan tindak kejahatan, rasa-rasanya itu bukanlah sebuah perilaku yang manusiawi, hanya karena mereka memilih untuk tampil dan berperilaku berbeda dengan kita.

Atau mungkin di situ awal mulanya, ketidaksiapan masyarakat Indonesia — karena dangkalnya pikiran mereka — untuk menerima adanya perbedaan. Maka kemudian dengan mengggunakan alasan apapun, berniat menyingkirkan orang-orang yang dianggap berbeda ini, termasuk dengan alasan agama.

Lihat saja maraknya penolakan dan penutupan gereja di mana-mana, perlakuan yang diterima oleh komunitas Ahmadiyah, baru-baru ini tindak kejahatan yang menimpa kelompok Syiah. Saya semakin tidak habis pikir, asumsi dan stigma yang ditanamkan begitu mudahnya diterima tanpa pikir panjang.

Yah, banyak yang mengatakan tahun 2011 adalah tahun intoleransi. Harapan saya sih, tahun 2012 ini bisa jadi lebih baik. Rasa-rasanya kalau hal macam ini terus dibiarkan — termasuk oleh pemerintah — tidak tahu lagi bagaimana keadaan bangsa ini nantinya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

2 thoughts on “Asumsi dan Stigma

  1. Brom

    Tulisan yang sangat bagus dan inspiratif. Mungkin agak sedikit menyimpang dari topik, tapi apa mas tahu Stand Up Comedy?Ada satu kalimat di Stand Up nya Pandji yang gak pernah bisa hilang dari ingatan saya. Dia bilang, apa sih manfaatnya Stand Up Comedy di Indonesia? Agar pikiran masyarakat semakin terbuka. Kita tumbuh di masyarakat yang terlalu sensitif…Semoga 2012 bisa dikenang jadi tahun dimana masyarakat mulai berpikiran terbuka ya!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.