Meninggalkan Ur-Kasdim — sebuah ekspresi iman

Baca: Kejadian 12:1-4; Yakobus 2:18-26

Saat membaca ayat-ayat di atas, saya mempertanyakan apakah Abraham tidak bisa membuat penawaran. Apakah Abraham tidak bisa mengatakan kepada Allah, “Oke Tuhan, aku percaya, aku beriman atas semua janji-Mu, tapi tidak perlu pergi dari Ur-Kasdim ya! Tidak usah menunggu lama untuk dapat Ishak ya! Tidak perlu pakai acara menyembelih Ishak ya!”.

Apakah iman semudah dan semurah itu? Apakah iman seperti ini yang sedang kita hidupi dalam hidup kita? Jangan! Ingat pernyataan Yakobus tentang iman, “… Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’, aku akan menjawab dia: ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.’ Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’ Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.‘ (Yakobus 2:18-26).

Saya ingin kita semua menjadi murid-murid Kristus yang sejati, bukan sekedar beragama Kristen. Kita tidak bisa hanya beriman dan berhenti di situ saja. Tunggu, ini bukan saya yang mengatakannya, baca ayat-ayat di atas. Saya ingin menekankan bahwa saat Abraham meninggalkan Ur-Kasdim, itulah ekspresi imannya. Saat dia bersabar menunggu kelahiran Ishak, itu adalah ekspresi imannya. Saat dia rela mengorbankan Ishak, itu adalah ekspresi imannya.

Kalau Anda benar-benar beriman kepada Kristus, apa ekspresi iman Anda. Lihat, begitu banyaknya orang rela mengikatkan bom pada tubuhnya, karena mereka percaya bahwa iman mereka akan mendapat ganjaran. Kalau kita sungguh beriman kepada Yesus Kristus, ekspresikan dengan perbuatan-perbuatan kita.

Yakobus menyatakan hal-hal ini kepada kita:

  • Iman tanpa perbuatan, pada hakekatnya adalah mati (ayat 17).
  • Jika kita hanya beriman, kita sama dengan setan-setan, dan bahkan lebih rendah daripada mereka (ayat 19).
  • Iman tanpa perbuatan hanyalah iman yang kosong (ayat 20).
  • Jika kita mempraktekkan iman tanpa perbuatan, kita adalah manusia yang bebal (ayat 20).
  • Iman bekerjasama dengan perbuatan, dan oleh perbuatan iman menjadi sempurnya (ayat 22). Artinya iman tanpa perbuatan adalah iman yang tidak sempurna.
  • Sahabat-sahabat Allah, adalah mereka yang menghidupi iman dengan perbuatan (ayat 23).
  • Manusia dibenarkan karena perbuatannya, dan bukan hanya karena imannya (ayat 24-25).
  • Sesungguhnya iman tanpa perbuatan adalah seperti tubuh tanpa roh (ayat 26).

Berhenti memiliki iman yang mati, berhenti memiliki iman yang tidak sempurna. Ekspresikan iman kita dengan perbuatan-perbuatan kita.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.