Mengejar Surga, melupakan Tuhan

Kalau kita membaca Wahyu pasal 21, kita akan menemukan kemegahan dan keindahan dari Yerusalem yang baru. Berikut ini saya rincikan apa yang bisa kita temukan dan kita nikmati di Yerusalem baru itu.

  1. Tidak ada air mata, tidak ada maut, tidak ada perkabungan, ratap tangis, atau dukacita (ayat 4)
  2. Kota itu bercahaya seperti permata yaspis, jernih seperti kristal (ayat 11)
  3. Memiliki tembok yang besar dan tinggi (ayat 12)
  4. Memiliki 12 gerbang, masing-masing 3 di tiap sisi, dinamai sesuai suku-suku Israel (ayat 12-13)
  5. Memiliki 12 batu dasar dan dinamai sesuai nama 12 rasul (ayat 14)
  6. Ukuran panjang, lebar, dan tinggi temboknya sama yaitu 12 ribu stadia (1 stadia adalah kurang lebih 200 meter, dikalikan 12 ketemu 2400 km). Sebuah ukuran yang mencengangkan (ayat 16)
  7. Tebal temboknya adalah 144 hasta (1 hasta = 45 cm, dikalikan 144 ketemu 64,8 meter). 64,8 meter! Itu tebal temboknya dan terbuat dari permata yaspis (ayat 17-18)
  8. Keseluruhan kota itu terbuat dari emas tulen yang bisa untuk bercermin (ayat 18)
  9. Dasar tembok kota itu dihiasi 12 lapis batu permata; batu yaspis, batu nilam, batu mirah, batu zamrud, batu unam, batu sardis, batu ratna cempaka, batu beril, batu krisolit, batu krisopras, batu lazuardi, batu kecubung (ayat 19-20)
  10. Dua belas gerbangnya terbuat dari satu mutiara utuh (ayat 21)
  11. Jalan-jalan kota terbuat dari emas murni yang bagaikan kaca bening (ayat 21)

Bukankah ini kota yang indah dan layak untuk dinanti-nantikan? Benar. Tetapi jangan berhenti di situ dulu, jangan hanya mengejar dan menantikan semua kemegahan yang saya tulis di atas. Yang lebih penting adalah rindukan untuk bertemu TUHAN Allah yang bertahta di tengah kota itu.

Mungkin Anda berpikir bahwa kalau kita masuk ke Yerusalem Baru itu bukankah Allah ada “satu paket” di dalamnya. Anda benar! Yang saya ingin katakan kepada kita adalah, seringkali kita menantikan dan mengejar kemegahan dan berkat Allah, tetapi juga melalaikan pribadi Allah itu sendiri. Memang contoh di atas sedikit ekstrim, tetapi tidak bisa disangkal bahwa berkat-berkat dan kemegahan dari TUHAN seringkali menutup mata orang Kristen modern untuk memandang kepada Sang Sumber, TUHAN itu sendiri.

Saya tidak merindukan tembok-tembok permata itu, saya tidak merindukan gerbang-gerbang mutiara itu, saya tidak merindukan jalan-jalan emas itu; saya lebih rindu kepada Anak Domba yang bertahta di sana!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.