Hobab: bersaudara dengan yang tidak seiman

Baik dari keluarga besar orang tua saya, maupun dari keluarga bapak ibu mertua, saya memiliki saudara-saudara Muslim. Mungkin pertanyaan Anda adalah apakah saya tidak punya kerinduan menginjili mereka? Tentu saja saya akan bersukacita seandainya mereka ini mau mengenal (lagi) Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bukan itu yang sedang saya sampaikan hari ini.

Mari baca bagaimana Musa memperlakukan saudaranya yang tidak mengakui TUHAN Allah.

Lalu berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang Midian, mertua Musa: “Kami berangkat ke tempat yang dimaksud TUHAN ketika Ia berfirman: Aku akan memberikannya kepadamu. Sebab itu ikutlah bersama-sama dengan kami, maka kami akan berbuat baik kepadamu, sebab TUHAN telah menjanjikan yang baik tentang Israel.” Tetapi jawabnya kepada Musa: “Aku tidak ikut, melainkan aku hendak pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku.” Kata Musa: “Janganlah kiranya tinggalkan kami, sebab engkaulah yang tahu, bagaimana kami berkemah di padang gurun, maka engkau dapat menjadi penunjuk jalan bagi kami. Jika engkau ikut bersama-sama dengan kami, maka kebaikan yang akan dilakukan TUHAN kepada kami akan kami lakukan juga kepadamu.” Lalu berangkatlah mereka dari gunung TUHAN dan berjalan tiga hari perjalanan jauhnya, sedang tabut perjanjian TUHAN berangkat di depan mereka dan berjalan tiga hari perjalanan jauhnya untuk mencari tempat perhentian bagi mereka.[1]

Di sini disebutkan bahwa Hobab bukanlah orang Israel asli. Dia adalah saudara ipar dari Musa. Kemungkinan besar Hobab ini tidak menyembah TUHAN Allah (Yahweh). Meski demikian, lihat bagaimana Musa memperlakukan saudaranya ini.

“… kami akan berbuat baik kepadamu …” itulah perlakuan Musa kepada Hobab. Ditegaskannya ulang, “… kebaikan yang akan dilakukan TUHAN kepada kami akan kami lakukan juga kepadamu.”.

Seharusnya sikap semacam inilah yang harus menjadi teladan kita dalam memperlakukan saudara-saudara kita yang tidak seiman dengan kita. Bukan sekedar kebaikan, melainkan kebaikan seperti yang dikerjakan Tuhan dalam hidup kita.

Bukankah benar itu idiom yang mengatakan actions speak louder than words?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Bilangan 10:29-33

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.